Home > REPORT, TIPS > Pemudik Inginkan Angkutan Murah

Pemudik Inginkan Angkutan Murah

September 26, 2009 Leave a comment Go to comments

IMGP4225

Pilihan sepeda motor sebagai sarana angkutan murah

Jakarta, 26 September 2009. Harian Kompas yang dibaca SL.com terbitan hari Sabtu (26/9/09) menyampaikan berita soal mengapa korban tewas khususnya pemudik sepeda motor semakin besar, faktanya sudah mencapai angka 472 korban meninggal (lihat artikel SL.com di sini).

Apa yang membuat masyarakat memilih sepeda motor menjadi alat transportasi mudik? Secara umum dapat disimpulkan karena pemudik inginkan angkutan murah.

Semua orang pastinya ingin mencari sesuatu dengan biaya rendah, biaya ekonomis, hanya saja seringkali banyak orang yang sudah tidak peduli lagi dengan resiko bahaya yang mungkin bakal terjadi.

Tapi itulah faktanya apa yang terjadi disekitar kehidupan kita, bahwa kata “terpaksa” merupakan satu pilihan terakhir “dari pada tidak sama sekali.” Maka akal sehat pun bisa dikalahkan demi hasrat dan keinginan manusia menuju suatu kebahagiaan. Sesuatu yang sifatnya “terpaksa” pun harus berlaku untuk mengambil resiko bahaya, atau resiko kecelakaan dan ini sama saja dengan nekad.

Tidak ada pilihan bagi pemudik menggunakan sepeda motor sebagai pilihan terakhir, kecuali jika ada pihak-pihak, dalam hal ini khususnya pihak pemerintah mau ikut serta peduli dengan kesejahteraan dan keselamatan warga negaranya.

Dimanakah fungsi dan peran pemerintah melihat situasi ini? Milik siapakah negara ini? OMG!

Jakarta, Kompas – Pemudik bersepeda motor mengakui risiko pulang kampung atau mudik dengan mengendarai sepeda motor sangat besar. Risiko yang mereka maksud, pemudik bersepeda motor merasakan kelelahan luar biasa sehingga memiliki risiko kecelakaan tinggi di jalan raya. Sisi positifnya, mudik dengan sepeda motor lebih diminati sebagian besar pemudik karena murah.

Namun, pemudik bersepeda motor tetap mendambakan ada angkutan umum Lebaran yang murah, aman, dan nyaman. ”Kalau punya duit sih enaknya naik mobil saja. Pengin juga duduk enak di mobil seperti orang- orang itu. Naik motor capek banget, tapi enggak ada yang lebih murah dan cepat sih,” kata Ishariono yang bersama istrinya kembali dari mudik naik sepeda motor ke Pekalongan, Jawa Tengah.

Demikian rangkuman wawancara Kompas dengan para pemudik bersepeda motor yang sedang melintas di Nagreg, Bandung, Pamanukan, Indramayu, Cikampek, dan Purwakarta sepanjang Jumat (25/9).

Pengakuan bahwa mudik dengan sepeda motor amat berisiko sesuai dengan data kecelakaan lalu lintas yang terjadi sepanjang arus mudik hingga balik saat ini. Data yang diperoleh Posko Angkutan Lebaran 2009 yang berpusat di Departemen Perhubungan dengan bagian antara lain Badan Pembinaan Keamanan Mabes Polri sampai kemarin menyatakan, selama 11 hari terakhir ini terjadi 1.444 kecelakaan. Kejadian itu mengakibatkan 539 pemudik tewas. Sebanyak 637 orang luka berat dan 1.394 orang luka ringan. Perhitungan polisi, kerugian material mencapai Rp 2,7 miliar.

Kecelakaan terbesar menimpa pemudik bersepeda motor. Angka kecelakaan dan korban meninggal, luka, dan kerugian material terus bertambah. Per 23 September, sebanyak 472 pemudik meninggal dunia karena kecelakaan.

Menanggapi jumlah kecelakaan dengan korban yang sangat besar itu, pengamat transportasi dan sosiolog meminta polisi menindak tegas pemudik yang melanggar peraturan lalu lintas, termasuk pemudik bersepeda motor yang membonceng lebih dari satu orang (Kompas, 25/9).

Sebagian pemudik bersepeda motor yang ditemui menyatakan jika ada pilihan moda transportasi yang aman dan murah, mereka akan memilih itu. Namun, masalahnya, transportasi murah hanya kereta ekonomi dengan tempat duduk terbatas, sementara kemampuan keuangan mereka amat terbatas.

Sutrisno (33), pemudik asal Kuningan, Jawa Barat, misalnya, mengakui, naik sepeda motor memang tak senyaman naik bus ber-AC. Selama perjalanan kepanasan, punggung pegal-pegal, dan risiko kecelakaan tinggi.

Bahkan ia mengalami kecelakaan di Simpang Jomin, Jumat. Ia menabrak tas milik pemudik di depannya yang jatuh. Sutrisno yang membonceng anak dan istrinya pun terjatuh. Beruntung mobil di belakangnya bergerak lambat. ”Risikonya memang lebih tinggi, tetapi mau naik bus tidak punya uang,” ujar Sutrisno sambil mengelus kaki kirinya yang bengkak.

Pemudik bersepeda motor lain mengatakan, mudik menggunakan motor lebih diminati karena hemat biaya. Selisih biaya antara naik motor dan naik angkutan umum bisa mencapai 200 persen tergantung jarak.

Supar (36), pemudik bersepeda motor asal Purwodadi, Jawa Tengah, mengaku hanya mengeluarkan biaya bahan bakar Rp 80.000 untuk pulang dari Cilegon, Banten. Jika menggunakan bus ber-AC, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 300.000 per orang. ”Makan juga ngirit karena bawa dari rumah. Kalau capek istirahat di pom bensin yang gratis. Pengeluaran paling untuk rokok,” ujar Supar yang ditemui di Jomin, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat.

Ia kelelahan setelah 12 jam naik sepeda motor dari Purwodadi ke Cilegon. Sopir truk ekspedisi ini mengaku pinggangnya pegal dan tubuhnya lemas karena capek. Tulang ekornya terasa sakit. ”Saya loyo sekali ini, mau istirahat dulu. Mungkin sampai di rumah besok pagi,” ujarnya.

Sutrisno hanya mengeluarkan dana Rp 60.000 untuk mudik. Perjalanan selama 10 jam ke Kuningan hanya butuh biaya bensin Rp 30.000 dan biaya makan Rp 30.000 untuk dirinya, istri, dan anak. ”Kalau naik bus AC mahal. Tiketnya Rp 90.000 per orang. Mudik bertiga naik bus ongkosnya Rp 270.000. Naik motor lebih irit,” ujar Sutrisno.

Keterangan senada diungkapkan Ngadimin (33), pemudik asal Purwokerto, yang dijumpai di Nagreg. ”Rata-rata pengeluaran mudik naik motor sekali jalan hanya Rp 100.000. Uang bensin maksimal Rp 30.000, sisanya uang makan dan minum serta rokok. Jauh lebih murah jika menggunakan kendaraan pribadi atau naik kendaraan travel.”

Ia membandingkan untuk sewa mobil di atas Rp 250.000 per hari, belum bensin. Demikian juga naik bus atau kendaraan travel, sekali jalan per orang minimal Rp 150.000.

Ngadiman membawa istrinya, Minah (34), dan anaknya, Dinda (5). Dua tas besar turut dibawa, satu diletakkan di bagian tengah motor, sementara satu lainnya digendong di punggung Minah. Dinda mengenakan jaket tebal, dibebat syal penghangat dan duduk di antara orangtuanya.

Rochmadi (42), warga Cilandak asal Cilacap, punya cara menyiasati mudik. Ia sadar, mudik bersepeda motor memiliki risiko keselamatan sangat besar. Lima tahun terakhir ia mudik naik sepeda motor sendiri, istri dan kedua anaknya mudik lebih dulu dengan travel.

”Kita harus pandai mengatur. Silaturahmi di rumah terjaga karena bisa mengunjungi sanak keluarga dengan motor, tetapi kita tak memaksakan diri mudik boncengan tidak karuan,” katanya.

Rochmadi menambahkan, ia berhenti maksimal setelah tiga jam berkendara. Ngadimin dan Rochmadi mengaku hanya membawa uang maksimal Rp 2 juta setiap mudik.

Sementara itu, pemudik dengan kereta api kelas ekonomi yang ditemui di Stasiun Senen dan Stasiun Jatinegara, Jakarta, berharap pemerintah memperbaiki layanan untuk pemudik, termasuk untuk kereta api. Nurul (25), pembantu rumah tangga di Klender, Jakarta Timur, yang naik kereta berkata, setiap tahun ia mudik selalu naik kereta api. ”Tetapi selalu saja berjubel dan harus berebut tempat duduk,” katanya. Ia juga mengeluhkan toilet yang berbau tak sedap.

Teguh (22), pemudik asal Adimulyo, Kebumen, Jawa Tengah, mengaku selalu harus berjejalan naik kereta. Ia berharap armada Lebaran bisa ditambah. (BEN/RAZ/ANG/REK/GAL/HAN/WHY).

Sumber artikel dalam kutipan diambil dari harian Kompas, Sabtu 26 September 2009 halaman pertama.

Categories: REPORT, TIPS
  1. atlet
    September 26, 2009 at 11:30 pm

    Sebenarnya mulai tahun ini pemerintah mulai pedul dengan permasalahan kebutuhan masyarakat akan transportasi umum yang memadai baik dari segi kuantitas dan kualitas. Berikut ini link yang menunjukkan usaha pemerintah dalam menambah kuantitas transportasi umum yaitu dalam hal ini jumlah kereta api http://www.inka.web.id/?p=622

  2. September 28, 2009 at 3:21 am

    Memang susah mau memikirkan lonjakan kepadatan lalu lintas disegala lini untuk waktu yang sangat singkat saja dalam setahunnya … angkutan umum reguler (semua moda) kan pasti tak mungkin menghitung kapasitas maksimum dengan memasukkan lonjakan sekali setahun ini .. jadi yah sisanya tetap memakai mobil dan … apalagi kalau bukan motor …
    Berarti pengamanannya harus dimulai dari awal sekali ….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: