Home > REPORT > Kepadatan Motor Menuju Gunung Bunder

Kepadatan Motor Menuju Gunung Bunder

September 23, 2009 Leave a comment Go to comments

IMGP4232

Pintu Gerbang Kawasan Wisata Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor

Jakarta, 23 September 2009. Untuk mengisi liburan lebaran 2009 sekaligus silahturahmi bersama keluarga, maka pada hari Selasa (22/9) SL.com memutuskan “piknik” bersama keluarga ke arah Gunung Bunder di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor, yang dikenal sebagai lokasi kaki Gunung Salak.

Lokasi ini termasuk kawasan cagar alam yang dilindungi dan juga sebagai salah satu kawasan wisata dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Sebenarnya lokasi ini sudah sering dikunjungi oleh SL.com dengan touring motor bersama rekan-rekan RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia), juga HTML (Honda Tiger Mailing List), maupun dalam kunjungan privater. Salah satu artikel ketika SL.com naik motor ke Gunung Bunder bisa dilihat di sini.

Hanya saja perjalanan dengan mobil baru kali ini dilakukan, demikian pula membawa keluarga secara lengkap juga baru kali ini ada kesempatan yang baik.

SL.com bersama rombongan keluarga berangkat ke lokasi dengan dua mobil secara beriringan. Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 10.00 dengan harapan perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar dua jam lebih. Estimasi waktu pukul 12.00 sudah tiba di lokasi camping ground Gunung Bunder, nantinya kami akan gelar tikar, gelar tenda, makan siang bersama, serta jalan-jalan menikmati keindahan alam Gunung Bunder yang terkenal dengan hutan cemara, dan wisata curug (air terjun).

Kemacetan Sawangan

IMGP4219

Keraimaian Pengendara Sepeda Motor sepanjang jalan

Ketika kami masuk kawasan pertigaan traffic light Sawangan-Depok-Parung (Jl. Parung Raya Km. 34), sudah terlihat kemacetan akibat semrawutnya lalu-lintas yang disebabkan oleh pengendara sepeda motor yang ingin menyerobot jalan. Padahal di tempat itu sudah ada petugas polisi, tapi tetap saja lalulintas macet. Bagaikan air yang mengalir dan berhenti, terlihat dengan cepat ratusan motor sudah mengepung dari semua sudut dan celah jalan.

Wouw… parah banget!

Kami belum masuk di pertigaan Pasar Parung Km. 36 yang terkenal dengan kemacetan karena keramaian pasar dan angkotnya yang suka ngetem dengan seenaknya. Mau tak mau kami memutuskan lewat jalur Perumahan Arco.

Setelah lolos dari traffic light Sawangan tadi, kemudi mobil diarahkan ke Jl. Sawangan-Depok dan setelah melewati jarak dua km, kemudi mobil berbelok lagi ke kanan ke arah Pengasingan dan seterusnya ke perumahan Arco dan selanjutnya bisa tembus ke Jl. Parung Bogor tepatnya di Km. 39.5.

Keburukan soal safety riding pengendara motor selalu ditemukan oleh kami sepanjang perjalanan, baik pergi dan pulang, dimana saja ada banyak ulah dan gaya pengendara motor yang aneh-aneh. Mau tak mau pengendara mobil harus ekstra hati-hati. Kecepatan di jalan utama Parung-Bogor hanya bisa ditembus dengan speed average 40-50 Km/jam.

IMGP4220

Salah satu kecelakaan. Saling ngotot antara pengendara motor dan pengemudi mobil

Sekitar di kawasan Km. 48 Jl. Parung-Bogor dekat perumahan Mutiara Bilabong, terjadi kemacetan panjang. Setelah kami bergerak maju pelan-pelan, ternyata kami melihat ada bekas kecelakaan sepeda motor. Bekasnya yaitu pertengkaran adu mulut antara pengendara motor dengan pengemudi mobil. Masing-masing saling ngotot dan berteriak keras sehingga terdengar sampai ke arah mobil kami yang berada diseberang jalan.

Siapa yang jadi korban? Entahlah sudah tidak terlihat lagi siapa korbannya, yang jelas terlihat ada sebuah motor yang didorong tidak bisa dijalankan karena stangnya bengkok.

Fungsi Rakom

Kami masuk kawasan Semplak-Atang Sanjaya -Komp. TNI AU, dimana pergerakan motor yang menuju kota Bogor terlihat semakin banyak. Beruntung didalam mobil ada alat rakom (radio komunikasi) dan kami sebagai anggotaRAPI JZ10HRB bisa berkomunikasi dengan rekan-rekan RAPI di frekuensi 143.375. Seorang rekan JZ10GCQ berlokasi di  Taman Yasmin Bogor memberikan panduan traffic sekitar Bogor. Tidak itu saja, rekan ini juga memberikan panduan bagi SL.com bagaimana menuju ke Gunung Bunder melewati jalan Cikampak dari pada jalur Cibatok yang katanya ada kemacetan yang cukup panjang.

Kemacetan IPB Dramaga

IMGP4223

Motor yang kerap merangsek dari semua sudut. Tak mau mengalah!

Pukul 11.30 kami sudah berada dalam kemacetan Bubulak, yaitu jalan menuju ke IPB Dramaga. Tepat pukul 12.00 benar-benar terasa macet total yang dimulai dari pintu gerbang IPB Dramaga. Jalan dua jalur di depan gerbang IPB yang seharusnya terpisahkan, ternyata jalur dari arah lawan di sikat habis oleh para pengendara motor yang ingin menyabot sampai ke depan.

Wouw… lagi-lagi kepadatan motor sudah menyemut hampir disemua sudut dan celah jalan sekitar IPB Bogor.

Mulai dari gerbang IPB Dramaga ini, perjalanan dengan mobil hanya hanya bisa merayap dengan hitungan menit per menit untuk bisa bergerak maju setiap 5-10 meter. Ada celah sedikit, tak ada ampun langsung diserobot oleh pengendara motor.  Antrian kemacetan ini terus terjadi sampai di Cibanteng dan pertigaan Warungborong.

Kalau paham jalan, seharusnya kami sejak tadi memotong jalan dari Semplak-Atang Senjaya menuju ke pertigaan Rancabungur/Ciampea dan terus ke pertigaan Warungborong-Jl. Raya Ciampea, tapi apa daya rombongan SL.com sudah terlanjur  melewati IPB Dramaga. Huh.. kesal!

Jalur Cikampak

Rasa lapar mulai dibicarakan oleh anggota keluarga di dalam mobil. SL.com pun menghibur dengan jawaban perjalanan masih 30 menit lagi. “Nah, kita sekarang sudah di Cikampak dan kita sekarang belok ke kiri menuju kaki Gunung Salak. Lihat tuh ada papan petunjuk beberapa nama curug (air terjun),” ujar SL.com dalam kemudi sambil tersenyum.

Perjalanan dengan rute menanjak seakan memberikan kepastian bahwa tujuan lokasi sudah dekat, apalagi Gunung Salak semakin terlihat jelas didepan mata. Seluruh penumpang mobil pun mulai terhibur seakan lokasi tujuan memang sudah dekat, apalagi aroma makanan yang tersimpan di bagasi belakang sudah tercium. Hmm.. makanan yang enak bakal segera disantap!

Kemacetan di Gunung Bunder Satu

Sepanjang jalan menanjak, mobil yang dikemudikan berlaju berbarengan dengan motor-motor yang juga ingin menuju Gunung Bunder. Namun setelah itu apa yang terjadi?

IMGP4225

Kemacetan di kawasan Gunung Bunder Satu

Terjadi kemacetan lagi dengan lebar jalan cuma 2,5 meter ini. Setelah ditunggu 5 menit, kemacetan semakin menjadi dengan hadirnya motor-motor yang mulai menyemut dan menyerobot jalan. Sudah bukan jalan aspal lagi yang diserobot motor, tapi rumput dan batu-batuan dilahap oleh motor. Mungkin kalau memang sangat terpaksa,  got dan selokan bisa juga dilewati oleh sepeda motor.

SL.com akhirnya turun dari mobil dan ingin melihat dari dekat apa yang terjadi didepan sana. Wah.. ternyata jalan sempit yang tadinya cuma bisa dilewati oleh satu mobil, rupanya sudah diserobot oleh pengendara motor dari semua arah.

Tak ada yang mau mengalah, semua ingin bergerak maju. Motor sudah dihalau untuk sedikit bersabar, setidaknya mau memberikan mobil/motor dari arah lawan untuk bergerak, tapi ulah dari pada para pengendara motor sepertinya tak mau tau, seenaknya, dan justru hal ini makin memperparah keadaan traffic yang kacau dan semuanya pun tidak bergerak.

P1000463

SL.com turun ke jalan memandu mobil agar lolos dari kemacetan.

Kemudi mobil diambil alih oleh salah satu anggota keluarga dan SL.com turun dari mobil menjadi pemandu. Pergerakan mobil walaupun cuma dapat 50 cm tapi itu sudah sangat berarti. Motor-motor yang datang dari arah lawan, maupun daru belakang dihalau dengan badan SL.com agar mau bersabar, serta bergantian memberikan jalan bagi rombongan mobil.

Dalam hal ini SL.com berjalan kaki pelan-pelan memandu mobil sendiri didepan mobil. Intinya adalah bagaimana caranya agar bisa dengan cepat melintasi kemacetan yang sudah mumet ini. Lokasi kemacetan parah ini berada sekitar di Gunung Bunder Satu. Makan waktu sekitar 45 menit agar kami bisa lepas dari kemacetan buruk tadi.

Makan Siang di Camping Ground

Perjalanan masih dilanjutkan kembali, namun hanya selang 15 menit kemudian kami pun sudah tiba di pintu gerbang Kawasan Wisata Gunung Bunder. Disini terlihat lalu-lalang dan keramaian para pengendara sepeda motor, baik yang datang maupun yang meninggalkan lokasi. Motor-motor banyak yang dikendarai secara grup/kelompok tapi mereka dengan seenaknya parkir dan menyita bahu jalan yang sempit, justru hal ini dapat memacetkan jalan. Benar-benar telah terjadi suatu kepadatan sepeda motor di kawasan wisata Gunung Bunder, sedangkan jumlah mobil masih bisa dihitung dengan jari.

IMGP4230

Membayar tikek masuk di pintu gerbang kawasan wisata hutan cemara Gunung Bunder.

Usai membayar tiket masuk, rombongan kami menuju camping ground di hutan cemara yang berjarak sekitar 300 meter dari pintu gerbang tadi. Lokasi yang nyaman segera dipilih dan setelah itu kami yang tergabung dalam tiga keluarga segera mengeluarkan segala keperluan makan siang, gelar tikar, hingga bangun tenda untuk tempat bermain anak-anak.

Pada akhirnya makan siang pun dapat kami nikmati bersama dengan seluruh anggota keluarga, walaupun arloji pada saat itu sudah menunjukkan pukul 14.15 WIB.

Jalur Pulang

Sekitar pukul 16.30 kami meninggalkan lokasi dan jalur pulang yang dipilih adalah turun lewat Cibatok. Setelah menulusuri hutan cemara dan melewati central point jalur pendakian ke Kawah Ratu Gunung Salak, mendadak ada kemacetan.

Masyarakat setempat menghimbau kepada kami agar kami berbalik arah dan melewati jalur yang semula, yaitu lewat Gunung Bunder Satu. Tak ada pilihan, kami harus menggunakan jalan yang semula yang sudah kami lewati. Padahal kalau lewat Cibatok, arah jalan kami adalah berputar yang mana kami bisa menemukan pemandangan yang berbeda.

IMGP4269

Meninggalkan lokasi piknik tepat pukul 17.00

Karena macet, maka kami dalam rombongan dua mobil segera berbalik arah, mobil diarahkan lagi menuju ke pintu gerbang Gunung Bunder. Terpaksa kami balik lagi  menuju lokasi sewaktu kami membayar tiket masuk tadi. Setelah itu, kami melihat jam sudah pukul 17.00 ketika kami akan bersiap meninggalkan pintu gerbang.

Hanya selang beberapa menit kami melintasi jalanan turunan, ternyata masih ada kemacetan di kawasan Gunung Bunder Satu yang tadi sudah kami alami  ketika kami datang.

Tapi kami beruntung ada sebuah jalur alternatif yang diberikan oleh anak-anak muda setempat, yaitu kami harus belok ke kanan melewati Telonjala dan belok lagi ke kiri arah  Cinangneng, yang selanjutnya kami bisa tembus ke utama yaitu jalan raya Ciampea-Dramaga. Ah.. syukurlah.

Setelah itu kami memutuskan untuk tidak melewati jalur IPB Dramaga yang sudah pasti bakal macet total, dimana kami memilih jalur yang lain, yaitu melewati Warung Borong, Ranca Bungur, Mekar Sari, Karihkil, Perumahan/Real Estate Telaga Kahuripan Parung, dan seterusnya jalur ke Parung, Sawangan, Pondok Cabek, dan Cirendue.

Soal perjalanan buta yang tak pernah dilewati sebelumnya, disini kami beruntung dibantu dengan alat GPS yang disediakan oleh Hp Nokia E52 dan E71 yang dipakai anggota keluarga selama berada didalam mobil. Navigasi melalui GPS memberikan kepastian rute yang bakal dilewati. GPS kami matikan setelah kami sudah tiba di perumaham Telaga Kahuripan Parung. Akhirnya kami pun kembali ke jalan utama, yaitu jalan menuju Parung.

Sebagai penutup, pukul 19.30 kami makan malam bersama keluarga di Pizza Hut Cirendue. Di lokasi ini juga kami rombongan keluarga harus berpisah. Ya tentunya kami pulang kerumah masing-masing.

Beberapa Foto Pemandangan Wisata Gunung Bunder & Sepeda Motor

Categories: REPORT
  1. September 23, 2009 at 1:46 pm

    Wah Bro Stephen lewat kampusku di Dramaga yah … padahal aku sendiri sudah dua puluhan tahun belum mampir disana lagi … paling jauh di kampus Baranangsiang …
    Rasanya dulu ada jalur Ciampea yang tembus langsung ke Parung, jalannya dulu sih bagus ..

  2. September 23, 2009 at 4:03 pm

    Emang heran ama oknum biker2 skg, dapat sim nya nembak semua kali ya. Pemerintah bikin 2 jalur kadang dibuat lawan arah oleh oknum biker.

  3. ixan
    September 27, 2009 at 11:36 am

    Wah, saya tgl 23 septembernya kesitu bang.. saya dari Tangerang melewati jalur serpong-ciseeng-karihkil-pertigaan warungborong. langsung masuk ke gunung bunder. Dan memang melelahkan macet dalam keadaan menanjak. Sekedar info Tangerang kota-pertigaan warungborong 66km. Warungborong- gunung bunder 21km.

  1. September 24, 2009 at 1:11 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: