Home > REPORT > Panel Diskusi Soal Pemudik Sepeda Motor dan Safety Riding!

Panel Diskusi Soal Pemudik Sepeda Motor dan Safety Riding!

September 17, 2009 Leave a comment Go to comments

IMGP4144Jakarta, 17 September 2009. Hanya beberapa hari menjelang hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430H, ternyata masih ada sebuah diskusi panel yang bertajuk “Peran ATPM Menghadapi Ledakan Pemudik Sepeda Motor” yang digelar oleh CERAS (Center for Safety Riding Study) diprakarsai oleh Edo Rusyanto.

Kebanyakan orang sudah sibuk mempersiapkan diri mudik, belanja untuk keperluan Lebaran, dan tentunya umat Islam masih menjalankan ibadah puasa, namun demikian ada pula sebagian orang yang mau berkumpul untuk mengikuti acara panel diskusi yang intinya membicarakan “seputar mudik sepeda motor dan safety riding”  yang berlangsung di Hotel Sofyan Tebet, Jl Prof. Dr. Soepomo, Jakarta Selatan, Rabu, 16 September 2009. Pkl 14.30-17.30 WIB.

Materi diskusi diisi oleh para nara sumber atau pembicara, yang pertama adalah Dr. Ing. Gunadi Sindhuwinata Ketua AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia). Sebagai pembicara kedua adalah Kasat PJR Polda Metro AKBP Ipung Purnomo yang mewakili pimpinannya karena tida bisa hadir, Condro Kirono Kadit Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Sedangkan pembicara ketiga adalah Edo Rusyanto selaku penggiat acara dari CERAS.

KECELAKAAN SEPEDA MOTOR MENINGKAT

AISICeras-01

Gunadi Sindhuwinata, selaku Ketua AISI tampil sebagai pembicara pertama mempresentasikan sejumlah angka-angka statistik yang perlu menjadi perhatian bagi semua lapisan masyarakat, khususnya tentang angka kecelakaan sepeda motor yang semakin meningkat secara drastis. Sebagai gambaran, lihat garis statistik pada gambar khususnya garis sepeda motor warna biru yang mana mulai dari tahun 2006 hingga tahun 2008, angka kecelakaan motor meningkat tembus diatas 50,000 kasus per tahunnya.

Tak dapat dipungkiri jika angka kecelakaan ini benar makin meningkat, tidak lain karena populasi dan perkembangan pengguna sepeda motor juga semakin meningkat.

Hingga akhir tahun 2008, tercatat oleh AISI jumlah sepeda motor yang beredar di Indonesia adalah 6.2 juta lebih, dan persentase kecelakaan motor adalah 67%. Artinya lebih dari setengah pengguna motor di Indonesia sudah pasti pernah mengalami kecelakaan serius dan banyak juga yang menjadi korban sampai meninggal gara-gara naik sepeda motor.

Melihat angka ini, para hadirin pun terperangah, seolah-olah mau mengatakan bahwa sepeda motor adalah “pembunuh” yang dapat membawa kematian bagi pengendara atau boncengernya. Apapun kata orang, sepeda motor masih tetap menjadi sarana transportasi utama karena sistem transportasi nasional belum bisa memberikan kenyamanan, sarana bus tidak memadai, memiliki mobil pribadi mahal dan jalan pun semakin sempit dan macet.

Adakah penambahan ruas jalan, dan pelebaran jalan yang dibuat oleh pemerintah? Adakah usaha pemerintah dalam rangka memberikan fasilitas transportasi masal yang baik? Jika tidak ada, maka pilihannya adalah memiliki sepeda motor. Terkait dengan program mudik bersama, Gunadi mengatakan, ”Kami punya moral obligation. Kami risau jika sepeda motor dituding biang keladi kemacetan dan penyebab kecelakaan,” papar pria yang juga Presiden Direktur PT Indomobil Sukses International Tbk itu.

SAFETY RIDING

IMGP4143Dari pihak ATPM industri sepeda motor yang hadir, antara lain terlihat PT Astra Honda Motor (AHM) yang mengerahkan personilnya hingga 10 orang,  yang mana mereka memang sangat concern soal safety riding. Beberapa personil AHM yang hadir dikenal sebagai instruktur safety riding.  Terlihat pula hadir dari PT Yamaha Kencana Motor (YMKI) yang diwakili oleh dua orang staff.

Turut hadir para pemerhati dan pelaku-pelaku safety riding atau aktifis safety road, antara lain Jufri Pulibuhu selaku founder dan owner JDDC Crash Free International (JDDC), kemudian ada  Rio Octaviano dari Road Safety Association (RSA), dan sejumlah bikers yang mewakili dari beberapa komunitas/klub motor yang sangat concern dengan safety riding.

Adapun yang menjadi perhatian utama dari materi diskusi panel ini ujung-ujungnya adalah masalah Safety Riding. Ya, lagi-lagi safety riding yang memang berkaitan langsung dengan perilaku dan kesadaran pengendara sepeda motor. Kita ketahui bahwa arus mudik (pulang kampung) masyarakat Indonesia sudah dimulai dalam rangka menyambut hari Raya Idul Fitri. Sudah tentu, diperkirakan bakal ada ribuan pemudik yang akan menggunakan sepeda motor dan mereka akan bergerak keluar Jabodetabek menuju daerah, baik tujuan ke pulau Jawa dan Sumatera.

2.6 juta jumlah pemudik akan menggunakan sarana transportasi sepeda motor, demikian angka estimasi dari Departemen Perhubungan (Dephub), dan angka tersebut belum dikalikan dua, jika asumsi pemudik akan membawa boncengan maximal satu orang, maka angkanya bisa menjadi 5.2 juta pemudik yang akan serentak bergerak. Para pemudik tersebut kebanyakan menggunakan motor-motor dari ATPM yang saat ini sedang memimpin pasar sepeda motor di Indonesia, yaitu Honda, Yamaha dan Suzuki.

Hal inilah yang menjadi concern dari pihak ATPM dan juga para pemerhati Safety Riding, sehingga acara diskusi panel perlu digelar oleh Edo Rusyanto yang sering menulis di blog pribadinya tentang safety riding. Disamping itu juga Edo sering menulis masalah tentang segala upaya masyarakat agar bisa menekan angka kecelakaan sepeda motor.

Usaha untuk menekan angka kecelakaan dalam hal mudik, setidaknya ada perhatian khusus dari pihak ATPM,  sebut saja PT AHM yang sudah mempersiapkan diri dengan menyediakan sarana transportasi bus dan truk pengangkut bagi para pemudik motor yang akan membawa keluarga lebih dari dua orang, dan juga membawa jumlah barang bawaan yang berlebihan. ”Kami akan sediakan bus bagi calon peserta mudik bareng,” ujar Istiyani Susriyati, kepala Honda Customer Care (HC3) PT AHM dalam obrolan ringan sebelum acara dimulai. Hal ini disampaikan berkaitan dengan UU yang berlaku bahwa sepeda motor hanya boleh mengangkut dua penumpang (dua orang, pengendara dan boncenger).

BONCENGER HANYA SATU ORANG

IMGP4145Nah bagaimana dengan pendapat dari pihak kepolisian, apakah memang ada toleransi khusus masalah pemudik yang suka membadel dengan alasan pulang kampung atau lebaran membawa boncenger lebih dari satu orang?  Atau apakah ada toleransi soal muatan yang berlebihan dan juga desain motor yang dibuat khusus untuk mudik tapi sangat extrim?

Ditegaskan oleh Kasat PJR Polda Metro AKBP Ipung Purnomo: ”Kami akan tilang para pengendara sepeda motor yang mengangkut lebih dari dua orang termasuk dirinya. Tidak ada toleransi dari kepolisian soal peraturan yang berlaku dan ini juga berkaitan langsung dengan keamanan dari para pemudik itu sendiri. Kami sarankan agar pemudik yang membawa anak dengan motor, agar dialihkan ke bus atau kereta” dalam keterangannya di acara panel diskusi.

Kasat PJR Polda Metro AKBP Ipung Purnomo yang juga dikenal sebagai seorang bikers moge, yang tentunya ia punya banyak penghalaman soal perjalanan jauh dengan motor. Ia pun bercerita banyak soal ulah para pemudik motor yang sering ia temukan di lapangan dengan berbagai aksi nekat pemudik yang bisa membahayakan dirinya sendiri dan juga masyarakat pengguna jalan.

Demikian pula ia bercerita tentang pemudik sepeda motor yang membawa anaknya, tetapi begitu sampai di tempat pemberhentian, ternyata anak yang dibonceng tersebut sudah meninggal. Cerita singkatnya, kepala sang anak tersebut ditutup rapat oleh ibunya (boncenger) dengan kain selendang karena dirasakan udara sangat panas, namun selama perjalanan jauh tersebut sepertinya anak tersebut tidak bisa bernafas karena pernafasannya tertutup oleh kain selendang tersebut. Ironis.

FASILITAS ARUS BALIK

IMGP4160Bagaimana dengan arus balik? Adakah ATPM ikut concern dengan masalah safety riding ketika para pemudik kembali ke Jakarta?

Hal ini tentunya jauh berbeda antara mudik dan kembali ke Jakarta. Biasanya para pemudik sepeda motor yang ikut mudik bareng dengan ATPM berangkat dari Jakarta, mereka akan dikawal oleh sejumlah petugas polisi, mereka akan masuk dalam barisan motor yang diatur dan direncanakan dengan baik. Tidak itu saja, mereka juga disediakan sejumlah pos-pos atau bale-bale pemberhentian, disediakan makanan-minuman oleh sejumlah sponsor, disediakan sarana P3K, disediakan ambulans, dan sebagainya.

Namun, ketika lebaran sudah usai, dan para pemudik akan kembali ke Jakarta, apakah fasilitas tadi masih ada? Sudah pasti fasilitas tadi tidak ada lagi! Rupanya hal inilah yang menjadi concern Edo Rusyanto, yang kerap menekankan masalah ini kepada pihak ATPM, yang katanya bahwa semestinya ATPM juga memikirkan serta mengkoordinasikan soal arus balik para pemudik. ”Pasti hal ini bisa dilakukan oleh setiap ATPM, dengan koordinasi yang sama disaat berangkat, sehingga arus balik juga bisa lebih tertib, aman, dan nyaman,” jelas Edo.

Menurut keterangan CERAS, bahwa korban kecelakaan selama arus mudik dan balik pada 2008 turun dibandingkan periode sama 2007. Pada 2008, CERAS juga mencatat total korban kecelakaan pengendara sepeda motor sebanyak 2.732 orang. Dari angka tersebut, korban yang meninggal sebanyak 633 orang. Angka tersebut menurun dibandingkan 2007 sebanyak 3.784 orang dan korban meninggal 798 orang. Pada 2009, jika tidak diantisipasi dengan baik, jumlah kecelakaan bisa kembali lagi meningkat. Ini lantaran jumlah pemudik sepeda motor bakal melonjak menjadi 2,6 juta. Tahun lalu, jumlah pemudik sepeda motor sebanyak 2,2 juta.

Acara ditutup dengan buka puasa bersama dilanjutkan dengan makan malam. Menurut pendapat dari para tamu yang hadir, beberapa dari mereka menyebutkan jika acara semacan ini harus “rutin” digelar dan mengundang lebih banyak lagi para hadirin. Kita tunggu acara selanjutnya dari CERAS dan Edo Rusyanto.

FOTO-FOTO LOKASI & ACARA

Categories: REPORT
  1. Ian
    September 18, 2009 at 11:02 pm

    Wah, ulasan yang mantap dan lugas bro Stephen. Untuk acara kemarin saya tertarik pada saran terakhir yang dilontarkan oleh bro Bani dari IBC (Independent Bikers Community), mengenai mereka yang tergabung ke dalam club/komunitas juga ikut serta memberikan pengarahan / contoh berkendara yang baik karena dinilai masih ada beberapa club / komunitas yang menggunakan sirene / lampu yang tidak sewajarnya dan kebut-kebutan saat konvoy.

    Sayangnya pas lagi hot-hotnya diskusi udah keburu maghrib😦 tapi overall awal yang bagus sekali seminar macam ini, good job for CERAS dan bro Edo Rusyanto.
    Wah..foto saya ada di atas tuh, asiiik..sayang saya gak liat pas di foto hehehehe…

    Tumben nih sepi komentar pada artikel ini, pembaca yg lain kurang tertarik pada safety riding atau memang pada pulang kampung kali yah hehehe…btw foto bro Stephen juga ada di blog saya loh..heheh..

    Regards,

  1. September 19, 2009 at 1:12 am
  2. September 21, 2009 at 11:54 pm
  3. September 26, 2009 at 7:37 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: