Home > REPORT > LALU LINTAS: Hidupku di Atas Sepeda Motor

LALU LINTAS: Hidupku di Atas Sepeda Motor

September 8, 2009 Leave a comment Go to comments

lalu-lintas-01

Kesemrawutan lalu lintas dapat dijumpai hampir di setiap perempatanbesar di Jakarta, terutama pada pagi dan sore hari.Puluhan sepeda motor berupaya memotong iringan mobil yang terjebak kemacetan di perempatan Slipi, Jakarta, Jumat (4/9). KOMPAS/DANU KUSWORO

Jakarta, 8 September 2009. Artikel dan foto ini dikutip langsung dari Harian Kompas, Selasa 8 September 2009 yang muncul dihalaman pertama ditulis oleh Neli Triana. Ini sengaja diungkapkan oleh SL.com di halaman blog ini sebagai bahan referensi dan juga sekaligus menjadi perhatian bagi kita semua.

Jumat (4/9) sekitar pukul 08.00, Ipan (27) baru saja tiba di kantornya di kawasan Meruya, Jakarta Barat. ”Tadi aku mau tabrakan lagi sama motor lain. Kalau enggak dipisahin orang, sudah berantem di jalan kita,” katanya.

Suasana hati yang ”panas” menjadi kebiasaan Ipan begitu berada di atas sepeda motornya. Emosinya mudah terpancing ketika terjebak macet, disalip orang, atau saat jalannya terhalang kendaraan lain. Menyenggol kaca spion mobil saat bermanuver di tengah kepadatan lalu lintas sudah biasa, nyaris diserempet bajaj hingga truk lumrah terjadi.

“Saya capek. Tidak ada yang mau mengalah di jalanan. Ya sudah, jalani saja,” kata Ipan.

Ipan, pemasar produk pembersih lantai ini, setiap hari harus berangkat dari rumahnya di Rangkasbitung, Lebak, Banten, sebelum pukul 06.00 menuju kantornya di Meruya. Setelah briefing pagi bersama karyawan lain, Ipan melaju di atas sepeda motornya menuju beberapa pasar di Kota Bambu, Jakarta Pusat, dan Pasar Pagi, Jakarta Barat.

Masih di atas sepeda motor, dengan delapan kardus berisi barang jualan ditimbun di jok penumpang, Ipan berkeliling dari pasar-pasar mencoba menggaet pesanan dari toko-toko maupun agen. Sore hari sekitar pukul 16.00, ia wajib kembali ke kantor menyerahkan uang setoran. Baru selepas shalat maghrib, ia bisa pulang dan sampai di rumah pukul 21.00.

Ipan bertahan di atas motornya menempuh 100-150 kilometer perjalanan setiap hari, Senin hingga Sabtu. Hanya pada hari Minggu, pantat Ipan terlepas sejenak dari jok sepeda motor.

”Pakai motor itu irit dan cepat,” timpal Andi Rifai, karyawan kelas menengah di sebuah perusahaan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Andi juga sering menerabas lampu merah atau sengaja berbondong-bondong berteduh di bawah jembatan layang saat hujan. Polisi atau petugas dinas perhubungan diam saja kalau melihat ulah pengendara sepeda motor.

Paling logis

Melewatkan hari dan suka dukanya di atas sepeda motor dilakoni oleh jutaan orang di Jakarta dari beragam profesi. Lihat saja jenis sepeda motor yang ada, dari yang butut hingga model sport terbaru berharga puluhan juta rupiah tumpah ruah di jalanan Ibu Kota.

Ketua Program Studi Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan, sepeda motor seharusnya menjadi alat transportasi jarak pendek. Tidak aman dan nyaman untuk berkendara jarak jauh berjam-jam. Namun, di Jakarta yang selalu macet, pendapatan pas-pasan, dan tidak adanya angkutan umum memadai menyebabkan sepeda motor muncul sebagai alat transportasi yang paling logis bagi sebagian masyarakat.

Keletihan, kata Hamdi, memicu pengendara sepeda motor ingin cepat sampai ke tujuan. Di sisi lain, tidak ada aturan yang melindungi mereka. Akibatnya, perilaku buruk pengendara sepeda motor menggejala secara massal. Mereka pun dituding sebagai pemicu utama kekacauan lalu lintas di Jakarta.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta M Tauchid mengatakan, tidak ada cara selain menindak tegas pengendara nakal. ”Perlu penegakan hukum terus-menerus di seluruh kawasan untuk mendidik pengendara agar tertib,” kata Tauchid. Namun, untuk menindak tegas diperlukan banyak tenaga. Ironisnya, jumlah petugas dinas perhubungan yang aktif di lapangan hanya 700-1.000 orang dan jumlah polisi lalu lintas di Jakarta cuma 4.408 orang. Jumlah polisi itu dibagi dalam tiga waktu tugas, yaitu 1.600 orang bertugas pukul 04.00-14.00 dan 1.600 orang lainnya bertugas pukul 14.00-19.00. Pada malam hari disiapkan 300 petugas saja.

Padahal, pada 2007, Kepolisian Daerah Metro Jaya mencatat terdapat 3 juta sepeda motor di Jakarta. Dua tahun terakhir, penambahan jumlah kendaraan roda dua ini minimal 10-20 persennya. Itu belum termasuk jumlah sepeda motor dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang setiap hari keluar masuk Jakarta.

Jakarta juga makin padat dengan jumlah mobil pribadi yang pada 2007 mencapai 2 juta unit. Berdasarkan data terkini Polda Metro Jaya, pada jam sibuk pagi dan sore hari, ruas jalan di Jakarta sepanjang 5.621,5 kilometer atau sekitar 6,28 persen dari luas Ibu Kota dipadati lebih dari 9 juta kendaraan, termasuk 600.000-1 juta kendaraan dari luar Jakarta. Itu artinya rata-rata setiap polisi lalu lintas harus mengamankan 6.300 kendaraan, termasuk sepeda motor.

Buah ketidakpedulian

”Tak heran jika kekacauan terus terjadi karena serba kekurangan. Seharusnya sebuah metropolitan memiliki panjang jalan 20 persen dari total luas kawasannya. Terlebih di Jakarta setiap hari ada rambu yang rusak atau lampu lalu lintas tak berfungsi,” kata Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Sepanjang 2009, Polda Metro Jaya mencatat telah terjadi 6.286 kecelakaan yang menewaskan 600 lebih pengendara. Sebanyak 3.606 kecelakaan di antaranya melibatkan pengendara sepeda motor.

Hamdi menegaskan, pribadi warga Jakarta tidak bisa disalahkan karena bertingkah laku buruk di jalan. Ini buah ketidakpedulian pemerintah yang tidak memiliki visi dan misi membangun metropolitan. ”Ini sudah terjadi lebih dari 30 tahun terakhir. Tidak hanya sepeda motor, pengendara lain juga kacau. Pada titik tertentu, masyarakat akan apatis dan tidak peduli. Puncaknya bisa terjadi amuk massa karena begitu tertekan,” kata Hamdi.

Hamdi dan Tulus meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah pusat berani meminta maaf kepada masyarakat. Pembangunan sistem transportasi massal wajib segera direalisasikan, bukan solusi parsial seperti membangun jalan tol baru. Kalau perlu, dibentuk regulasi khusus yang memungkinkan pajak kendaraan bermotor seluruhnya dikembalikan untuk pembangunan sistem transportasi publik. Bisa juga memilih, ya biarkan saja Jakarta makin kacau dan hancur.

*Sumber artikel: Harian Kompas, Jumat 8 September 2009.

Categories: REPORT
  1. topo
    September 8, 2009 at 9:37 am

    Nangis bacanya pak Stephen…
    ini terjadi setiap hari di ibukota RI tercinta…
    dan sepertinya tidak ada tindak lanjut yang optimal dari petugas terkait
    Berapa ratus pekerja di dinas perhubungan…
    masa yah ga da yang bisa memikirkan solusi terpadu..
    saya hanya rakyat kecil yang berharap jakarta bisa lebih baik dan bernorma
    tidak arogan dan main seruduk di jalan…

    Indah jakartaku, aku berharap….

  2. hanamon
    September 8, 2009 at 11:03 am

    salam kenal om stephen

    begitu baca tulisan om yang ini aq jadi bernostalgia, waktu kuliah 3th di jakarta sempet nyambi jualan kayak bang ipan tuh brasa banget gimana suka-dukanya bersepedamotor di jakarta. kalo sekarang ditanya mau ke jakarta lagi masih pikir-pikir neh om.

    sekarang tugas di kota kecil “kendari” sungguh beda 360 derajat om, disini jalanan sepi ga rame-rame amat polusi juga kurang tentunya (sungguh nikmat mas) cuman sayang perilaku bikernya lebih parah dari nyang di jakarta “suka motong jalan seenaknya, putar balik sesukanya, terobos lampu merah walo ada pak polisnya, dst…dst”

    kayaknya setuju deh om stephen kalo diadakan mata pelajaran khusus di sekolah (mulai sd lah kalo bisa) mengenai safety riding dan norma berkendara.

  3. Dan
    September 8, 2009 at 4:40 pm

    Ikut prihatin bro Stephen, gw ngalamin stiap hari dijalanan semakin padat kendaraan, smakin sering macet, tambah sumpek. bahkan dengan mengendarai motorpun sekarang sering tidak bisa bergerak juga.

    pengendara roda dua dianggap biang masalah ketidakteraturan, ya benar juga, tapi kalo ngomongin biang kemacetan, yah sudah jelas mobil pribadi dan angkutan umum biangnya.. coba bandingkan dimensi motor katakan 1×2 meter, dimensi mobil katakan 4.5×2 meter, jadi mobil lebih besar 4x lipat lebih tapi muatannya saat jam kerja cuma 1 orang, nah kalo jam kerja smua pengendara tumpah dijalan.. sementara angkutan umum bertingkah dijalan seperti pengendara motor, ngetem ditengah jalan dan tidak patuh aturan, jadinya 2x lebih buruk dari motor.

    katakan begini, pengguna jalan 1 juta orang, coba disaat bersamaan mereka semua naik motor sendiri2, atau disaat bersamaan mereka smua naik mobil sendiri2. nah… mana lebih macet?

    mnurut pengguna mobil, motor itu semrawut, tukang nyerempet, jadi bikin macet. mnurut pengguna motor, mobil itu ditengah kota jalannya lambat, bikin sempit, macet dan bikin debu beterbangan atau nyipratin pas hujan.. mana yang paling benar?

    kalo salah2an antara pengguna jalanan yah gak akan selesai2, sama2 punya kelemahan tapi ngotot semua. masyarakat kan masih punya pemerintah, jadi sebenarnya ini tantangan buat pemerintah. jangan cuma berpikir bagaimana melebarkan jalan, bikin subway atau flyover, itu mah proyek2an.. tahu kita lah.. tapi yang harus dipikirin mereka pertama itu bagaimana bikin pengguna itu mengerti nglotok dan taat hukum berkendara. harus juga bisa bikin pengguna mau beralih ke kendaraan masal perkotaan yang dapat diandalkan, ketepatan waktu, ekonomis, kemampuan mengangkut jumlah besar, kebersihan, keamanan, n nyaman…

  4. Oldschoolheroes
    September 9, 2009 at 4:39 am

    Sbnrnya solusinya… Angkutan publik dbenahi…
    Ky d negara luar kan angkutan publik nya bgs n nyaman n murah n lancar(kreta api, bus, trem)
    Klo angkutan umum nya bgs n nyaman kan masyarakat lbh milih pake angkutan umum…
    Ud cepet, nda kepanasan, murah n efisien…

  5. Ontohot
    September 9, 2009 at 9:05 am

    Salam kenal kenal om stephen,

    Sangat setuju kalau Pemerintah Wajib Peduli…..
    Tapi Mungkin ngga Ya….???
    Lha wong Para “Pembesar” itu ajah kalau lewat Jalan mereka dikawal (dibukain Jalan)….
    Mana mereka Peduli dengan Kita Para pemakai jalan……

  6. zaini
    September 9, 2009 at 10:26 am

    Bener banget tuh tulisannya Om Steve,aye anak Cililitan asli akhirnye nyerah netep di Jakarte.Jadilah minggir ke pinggir selatan Jakarta,udeh Bogor seh.Tiap hari mulai hari ke-2 puase aye wara-wiri dari rumah ke tempat gawe make V#%*O.Yah kalo dilhat segi ongkos mah gak jauh beda ama naek kereta,cuman yah ntu tadi sesuai ame perkataan Bapak Hamdi Muluk “….. dan tidak adanya angkutan umum memadai menyebabkan sepeda motor muncul sebagai alat transportasi yang paling logis bagi sebagian masyarakat.”
    Yah berdo’a dan berharap semoga badan ini dikasih kesehatan olehAllooh SWT biar bisa bawa gandaran terus gune nyiasatin Transportasi massal nyang belon nyaman.Aaaamiin…..
    Oh ye Salam kenal Yah Om Steve…

  7. September 9, 2009 at 10:55 am

    hmm.. bakal luas cakupan pembahasan artikel ini.. perwakilan kita pada kemana ya?

  8. September 9, 2009 at 10:58 am

    salam kenal juga bro hanamon.. sebenarnya di kota atau didaerah sama hancurnya.. orang daerah bilang, yang di kota aja sudah parah, apalagi yg didaerah.. malah di daerah banyak motor2 yg tidak pake plat nomor.. status motor “baru” terus katanya..🙂

  9. September 9, 2009 at 11:04 am

    Bro Dan.. ya begitulah sikonnya.. selama tiga hari ini saya amati perilaku bikers memang makin parah.. kacau, dan semua mau seenaknya saja.. gw juga bawa motor, jalan pelan malah sering diklakson-klakson, jalan agak kenceng nyalip beberapa motor, eh malah dikejar, “sepertinya” ada bikers yg gak suka kalo disalip.. pusing dah liatnya.. btw yg penting safe aja dan selamat sampe tujuan..

  10. September 9, 2009 at 11:09 am

    bro ontohot… hehehe.. gw gak koment ah..🙂 soalnya enak sih jadi pembesar..

  11. September 9, 2009 at 11:12 am

    beda dengan negara tetangga Singapura.. mereka ada MRT, murah, cepat, ngangkut banyak.. berharap negara kita jg punya alat transportasi seperti itu, masalahnya, begitu udah jadi, udah enak, semua orang pun bakal pindah ke jakarta.. katanya tinggal di jakarta enak ada MRT-nya.. jadi gak habis deh masalahnya..🙂

  12. topo
    September 9, 2009 at 11:46 am

    Bener pak stephen, selain MRT disana juga jalannya lebar2, ga perlu ada pintu tol untuk bayar tol (tinggal lewat otomatis terbayar, jadi ga da antrian di jalur tol). Semua transportasi terintegrasi dengan baik. Bersih. Yang paling penting pengguna jalan disana mau mematuhi peraturan yang ada. Sungguh Menyenangkan. Berharap Indonesia seperti itu, dimulai dari Jakarta tentunya…:(

  13. Wayoe
    September 11, 2009 at 11:30 am

    Iya om Topo, setau saya di Spore semua kendaraan dipasang sensor, baik itu mobil pribadi, umum, ato motor semua di kasih sensor. Jadi ada jam2 tertentu, di jalan2 tertentu yg potensial macet, kalo di kita 3 in 1, itu ada jenis2 kendaraan yg gak boleh lewat gratis, boleh lewat situ tapi harus bayar. Tapi jgn dibayangin ada loket nya, nah sensor yg dipasang dikendaraan itu yg kirim data ke pusat kendaraan ini lewat jalan ini, jam sekian, harganya sekian, tiap bulan dibayar. Dan sensor itu gak bisa dicopot ato dipindah kekendaraan lain, istilahnya sama dgn nomor kendaraan, punya masing2.
    Saya taunya pas naek taksi di Spore, saya tanya ma supir taksinya, ini apa, kotak kecil kyak kotak argo taksi gitu…….krn saya penasaran di semua kendaran ada termasuk motor…….saya kira utk parkir.
    Nah taksi pun ada sensornya jadi kebetulan pas saya lewat jalan berlaku seperti itu, setelah sampe tempat tujuan, di argo tertera 10 sgd, tapi diminta 12 sgd kalo gak salah, dia bilang itu “tax” krn tadi kita lewat jalan yg harusnya dihindari kalo mau gratis.
    Jadi di jalan2 tersebut hanya boleh lewat bus2, yg laen…..bayar. Bisa gak yah di sini diterapkan kayak gitu?……*berharap*

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: