Home > REPORT > Toko Sepatu “Sin Lie Seng” di Pasar Baru Terbakar!

Toko Sepatu “Sin Lie Seng” di Pasar Baru Terbakar!


IMGP2589Berita di Harian Kompas, Senin, 13 Juli 2009 ditulis oleh Soelastri Soekirno memberikan judul:  “Toko Sepatu Tiga Generasi Itu Turut Terbakar.”

Lah.. ini apa hubungannya dengan blog yang lagi anda baca?

SL.COM mengakui sepatu kerja yang dipakai sampai sekarang ini, yang selalu dipakai ke kantor naik motor, dipakai meeting atau presentasi bersama klien, adalah memiliki kualitas yang baik dan teruji tahan lama. Nama merek  sepatunya, Sin Lie Seng!

Oleh karena itu, SL.COM merasa prihatin dengan musibah kebakaran yang dialami oleh toko Sin Lie Seng yang terletak di Jl. Pasar Baru No. 32, Jakarta Pusat.

SL.COM mengulas sedikit dan sengaja mengutip artikel dari Harian Kompas sebagai referensi pembaca, apa dan bagaimana perihal toko Sin Lie Seng tersebut. Tapi dari sisi lain, SL.COM sebagai kosumen sepanjang 20 tahun  baru sekarang tahu banyak tentang sejarah toko sepatu ini dari harian Kompas.

Bagi SL.COM punya cerita sendiri, karena hampir setiap kali belanja sepatu buat aktifitas kerja, pastinya datang belanja ke toko ini. Total sepatu kerja milik SL.COM selama 20 tahun mungkin sudah mencapai 12 pasang yang berasal dari Toko Sin Lie Seng. Jumlahnya memang sedikit, itu karena awet!

IMGP2590

Mengenal toko ini baru lulus dari perguruan tinggi dan mulai masuk dunia kerja sebagai seorang staff biasa. Ketika itu sedang mencari sepatu dengan kualitas, harga dan model yang disukai ternyata ketemunya di toko Sin Lie Seng Pasar Baru. Produk sepatu yang disukai sejak dulu adalah warna hitam.

Diakui secara pribadi produk Sin Lie Seng tidak terlalu mahal, namun kulit sepatunya bagus, sol sepatunya kuat, dan diakui sebagai barang yang tahan lama. Rata-rata pemakaian bisa sampai 5 tahun, asalkan dirawat dengan baik. Pokoknya dipakai sampai hancur! Sol sepatu jebol, masih bisa diperbaiki lagi, asalkan kulit bagian atas masih awet.

IMGP1086Tertulis logo di setiap sepatunya dengan nama Sin Lie Seng.

Jenis sepatu yang disukai adalah jenis sepatu kerja dari bahan kulit berwarna hitam, dan mengunakan sol atau tapak yang juga terbuat dari bahan kulit.

Namun belakangan ini, soal sepatu terbuat dari semi karet.

Dua sepatu kerja yang sudah mencapai usia 4 tahun lebih, sepatu tersebut masih bertahan hingga saat ini. Luar biasa keawetan bahan kulitnya. Kuat!

Yang pasti kedua sepatu tersebut sudah mengalami permak dan perbaikan pada bagian tapak, tetapi bagian kulit atas sejauh ini masih tetap awet. Yang pasti sepatu tersebut masih dipake buat aktifitas harian naik motor (motor kopling), kena hujan sudah sering, hingga kelelep banjir pun sudah biasa.

Beruntung, masih ada satu sepatu yang masih tergolong baru, dibeli pada tanggal 17 Mei 2008 seharga Rp.350,000 model semi boot (lihat nota pembeliannya).

Sin Lie Seng0001Sepatu yang satu ini masih disayang-sayang, soalnya masih bagus, sedangkan dua sepatu lama memang masih awet dan dipakai sampai sekarang.

Hm.. apakah toko Sin Lie Seng akan bangkit lagi?

Akankah pemiliknya yang sudah tiga generasi masih mau melanjutkan usaha ini?

Masihkah kualitas produknya tetap sama dengan dulu?

Semoga saja toko ini dibuka kembali dengan segera.

Dibawah ini adalah kutipan berita Harian Kompas, Senin 13 Juli 2009 ditulis oleh Soelastri Soekirno.

Warga kota Jakarta yang sejak lama tinggal di Jakarta pasti tahu atau minimal pernah mendengar nama toko sepatu Sin Lie Seng di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Itulah toko sepatu berusia 67 tahun yang tetap bertahan hingga kini dengan memproduksi sepatu dari kulit dengan mutu relatif bagus dan harga terjangkau.

Hari-hari ini para pelanggan setia toko sepatu yang diusahakan oleh tiga generasi itu untuk sementara tak akan bisa membeli sepatu di toko sepatu ini. Penyebabnya, Jumat (10/7) malam lalu, toko Sin Lie Seng terbakar. Bagian dalam toko berlantai tiga itu porak-poranda. Ratusan pasang sepatu atau mungkin lebih, yang siap jual, bersama bahan lain ikut musnah terbakar.

Sabtu (11/7) sore, Toni Cahyadi (32) bersama dua adik perempuannya yang merupakan generasi ketiga pendiri toko sepatu tersebut masih memeriksa isi toko sembari mengabadikan bagian tertentu untuk dokumentasi keluarga. ”Ada bahan yang masih terbakar di lantai atas karena itu baunya masih kental,” tutur Toni yang ditemui seusai melihat bagian dalam toko.

Toni adalah salah satu cucu Tjoa Lan Tjong, pendiri toko sepatu Sin Lie Seng. Setelah Tjoa meninggal dunia, ayah Toni bernama Arun (67) meneruskan usaha Tjoa. Arun kemudian meneruskan usaha turun-temurun itu bersama Toni.

Musibah kebakaran yang menimpa toko yang berdiri sejak tahun 1942 itu tentu saja memukul Arun sekeluarga. Bangunan toko berlantai tiga itu pun berantakan.

Ketika Toni mengabari ayahnya bahwa api melalap toko mereka, Arun langsung berlari dari rumahnya di Jalan Gang Kelinci di belakang tokonya untuk melihat kondisi tokonya. ”Ia shock melihat toko terbakar. Badannya lemas sehingga ia harus dipapah untuk bisa pulang. Sampai sekarang ia masih sedih dan hanya berbaring di tempat tidur,” tutur Jap Je Mei (55), istri Arun.

3409718p
Kondisi toko sepatu Sin Lie Seng di Pasar Baru, Jakarta Pusat, setelah terbakar. Toko sepatu berusia 68 tahun tersebut terbakar pada Jumat (10/7) malam karena jilatan api yang membakar toko tekstil di sisi kirinya. Ribuan sepatu musnah dilalap api. Sumber foto: Harian Kompas Senin, 13 Juli 2009.

Bagi Arun sekeluarga, usaha pembuatan dan penjualan sepatu bukan sekadar tempat mencari uang, tetapi juga menyangkut dedikasi keluarga tersebut bagi para pelanggan. Itulah sebabnya pelanggan juga tetap setia membeli produk yang selalu bertuliskan Sin Lie Seng di bagian telapak sepatu. Tak jarang pelanggan toko itu kemudian juga turun-temurun. ”Sering ada pelanggan yang sudah oma-oma mengenalkan cucu bahkan cicitnya kepada kami,” tutur Jap Je Mei.

Umumnya pelanggan mengenal sepatu buatan keluarga Tjoa sebagai sepatu yang enak dipakai dan awet. Maklumlah sejak awal hingga kini, kualitas sepatu selalu dijaga. ”Dari sol sampai badan sepatu kami buat dari kulit dan semua buatan tangan yang dijahit bukan dilem,” ungkap Je Mei. Pejabat tinggi negara banyak yang menjadi pelanggan setia Sin Lie Seng. Bahkan, ada instansi tertentu, seperti Pasukan Pengawal Presiden, yang memesan sepatu untuk para anggotanya.

Untuk menjaga mutu, Arun tetap menggunakan tukang sepatunya yang sejak muda sudah bekerja kepada keluarganya. ”Mereka ini tahu benar bagaimana keinginan kami sehingga mutunya relatif sama dari masa ke masa. Biasanya yang paling cepat rusak bagian sol sepatu. Pelanggan biasa meminta ganti sol sepatu dengan memberi sekadar ongkos kepada tukang kami,” papar Je Mei lagi.

Sekalipun saat ini mode sepatu, terutama untuk perempuan, terus berkembang, tetapi Arun dan keluarganya tak mau tergoda memproduksi sepatu sembarangan sesuai mode. Keluarga ini sadar boom model sepatu perempuan cepat berganti.

”Nah, yang untuk sepatu perempuan dengan aneka model, kami menerima produk dari perusahaan lain sebab warna sepatu perempuan bermacam-macam sehingga lebih efisien dibuat dari bahan sintetis. Jika dibuat dari kulit agak susah dari sisi biaya produksi,” kata perempuan asal Lampung itu.

Persoalan biaya produksi menjadi soal penting sebab pelanggan mengenal produk Sin Lie Seng adalah sepatu kulit bermutu tinggi dengan harga terjangkau. Toni menyebut harga sepatu buatan tukang yang bekerja kepada keluarganya berkisar dari Rp 200.000 sampai Rp 350.000. ”Sangat murah dibandingkan mutunya. Harga produk kami juga jarang sekali naik,” ungkapnya.

Ia mengambil contoh, suatu waktu pernah keluarganya menjual sepatu kulit dengan harga yang hanya berbeda Rp 15.000 dengan sepatu merek Kickers. Kini beda harganya amat jauh, Kickers di toko-toko dijual sekitar Rp 1,5 juta sepasang, sementara harga sepatu Sin Lie Seng masih di bawah Rp 400.000-an.

Perihal mengapa keluarga Tjoa bertahan tak memproduksi sepatu dari bahan sintetis, Jap Je Mei menyatakan karena ia tak bisa menjamin mutunya. Biasanya sepatu jenis itu mudah terkelupas warnanya dalam hitungan bulan. Adapun sepatu kulit produknya bisa tahan hingga lebih dari dua tahun.

Keluarga Tjoa juga lebih memilih tetap berada di jalur pembuatan sepatu kulit dengan warna krem, coklat, dan hitam. Ia memastikan sepatu lelaki yang dijual di tokonya pasti buatan sendiri. Demikian pula bila ingin mencari sepatu perempuan bergaya dan berwarna klasik.

Rotan

Menurut Jap Je Mei, keluarga Tjoa sebenarnya bukan merupakan keluarga pembuat sepatu. Tjoa Lan Tjong yang kelahiran China (Tiongkok) datang ke Jakarta untuk menjadi tukang kayu dan penganyam rotan yang menjadi keahliannya. Entah mengapa Tjoa kemudian berubah haluan, ia lalu memilih menjadi tukang sepatu di Pasar Baru yang dulu sudah dikenal sebagai tempat berniaga bermacam suku bangsa.

Tjoa yang tinggal di Gang Kacak-kacak (belakang Pasar Baru) lalu membuka toko sepatu pada tahun 1942. Ia memiliki tiga anak. Mereka, Tjoa Timin, Arun, dan Fie Hong.

Di antara anak-anaknya itu, tampak Arun yang lebih serius menekuni bisnis sepatu milik ayahnya sehingga Tjoa mewariskan toko berikut tukang sepatunya kepada anak keduanya itu pada tahun 1982, tetapi sebenarnya sejak tahun 1970-an Arun dan istrinya sudah ikut mengurusi bisnis itu.

Sejak awal toko sepatu milik Tjoa dibuka di Pasar Baru karena sejak awal tahun 1900-an, Pasar Baru dikenal sebagai tempat para tukang sepatu berada. Mereka umumnya datang dari China dan menjadi langganan orang Belanda yang tinggal di Batavia.

Ketika Tjoa Lan Tjong meninggal, bisnis sepatu keluarga sepenuhnya dikelola Arun dan istrinya. Dengan bekal belajar secara otodidak, pasangan suami-istri ini bahu-membahu membangun usaha. Arun yang paham benar seluk-beluk sepatu dan cara pembuatannya tak hanya bertugas mencari kulit dan bahan pendukung lain, tetapi juga mengarang model sepatu lelaki dan perempuan.

”Setiap kali kami sedang berjalan-jalan, mata kami selalu melihat mode sepatu yang dipakai orang. Kalau bagus, ya dibikin modelnya,” kata Jap Je Mei sembari tertawa.

Arun tercatat pernah menjadi juri pada lomba desain sepatu dan kualitasnya dalam sebuah lomba yang diadakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada zaman Gubernur Ali Sadikin. Tak heran kalau nama Arun cukup dikenal.

Menurut Jap Je Mei, zaman Ali Sadikin, tukang sepatu berlomba menghasilkan desain dan mutu terbaik karena kerap ada lomba yang membangkitkan gairah para tukang sepatu.

IMGP2580

Categories: REPORT
  1. July 14, 2009 at 2:02 pm

    turut prihatin
    memang dari dahulu itu toko terkenal
    nice info…..

  2. July 14, 2009 at 8:31 pm

    wah…semoga mereka bisa bangkit kembali…saya suka dengan orang yang memiliki dedikasi untuk memberikan kepuasan terhadap konsumen dengan memberikan kualitas….barang yang bermerk mahal belum tentu awet kan bro….malah terkadang produk murah bisa memiliki kualitas yang lebih baik…

  3. Rangga Bachri
    July 14, 2009 at 9:39 pm

    Waduh,
    Saya masih inget dulu waktu masih kecil setiap minggu sore pasti ditugasin alm. Ayah saya buat semir sepatunya beliau..sin lie seng…besokannya beliau cerita pujian orang2 buat sepatunya
    Emang kulitnya beda.
    Mudah2an cepat pulih bisnisnya
    Merk itu dah legend banget

  4. indramayuparean
    July 14, 2009 at 10:01 pm

    waduh om topiknya sepatu buat bapak2 legend..no coment ah…

  5. s13ky
    July 19, 2009 at 12:07 pm

    Wah, ada sepatu penyusup non Sin Lie Seng tuh…di atas🙂 Merk sepatu ini juga merupakan favorit almarhum bokap gw karena daya tahan dan kelenturannya sehingga kenyamanan sudah pasti menjadi jaminan. Semoga mereka bangkit kembali.

  6. July 19, 2009 at 1:46 pm

    kalo sepatu touring elu merek apa ky?? yang sin lie seng ada gak??

  7. s13ky
    July 22, 2009 at 1:43 pm

    Sepatu gw Caterpillar dan Alpinestar, bro. Sin Lie Seng mentok di ukuran, cari size 45 nggak ada🙂

  8. July 22, 2009 at 1:54 pm

    huahaha… ukuran sepatu loe bener2 sama dgn ukuran robot transformer..😀😀

  9. Wenny
    September 22, 2009 at 10:37 am

    Salam,thanks buat peminat produk Sin Lie Seng,dan semoga puas dengan produk dan pelayanannya.Sin Lie Seng sudah beroperasi kembali dari 15 Agustus.Produksi masih sama,terbuat dari kulit asli,sol dijahit.

  10. September 22, 2009 at 9:52 pm

    @Wenny, Terima kasih atas infonya. Baru tau lewat blog ini kalau Toko Sepatu Sin Lie Seng sudah buka kembali. Luar biasa, cepat sekali bebenah. Kalau tau gitu, sebelum lebaran sudah belanja sepatu kesana, hehehe..🙂

    Ke Pasar Baru ahhh..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: