Home > REPORT, TIPS > Tolak Motor Masuk Jalan Tol

Tolak Motor Masuk Jalan Tol


3386323p

Pengendara sepeda motor menghentikan kendaraannya pada saat lampu merah, jauh dari marka jalan yang ditetapkan dalam berlalu lintas, di Jalan Karet Pasar Baru Barat, Jakarta Pusat, 10 Maret lalu. Sumber http://www.kompas.com

Jumat, 26 Juni 2009.

Jakarta, Kompas – Sepeda motor sepatutnya tidak boleh melewati jalan tol meski dibangun jalur khusus terpisah dari mobil, sebab berpotensi meningkatkan angka kecelakaan dan membuat kota-kota besar makin terperangkap dalam kemacetan.

Pemerintah malah disarankan membangun lebih cepat lagi transportasi massal daripada menggulirkan solusi berupa jalur khusus motor di tol. Jalur khusus motor, sebaliknya dapat ”mematikan” transportasi massal.

Demikian dikatakan ahli transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, dan Ketua Bidang Prasarana dan Angkutan Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Rudy Thehamihardja, Kamis (25/6), yang dihubungi secara terpisah.

Ditemui di kantor Departemen Pekerjaan Umum, Kamis siang, Menteri PU Djoko Kirmanto menegaskan, bila di suatu ruas tol dibangun jalur khusus motor, sepeda motor boleh lewat. Di Jembatan Suramadu, hal itu sudah terlaksana, dengan membayar Rp 3.000 per motor.

Diperbolehkannya sepeda motor lewat tol diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2009 tentang Jalan Tol, yang menggantikan PP Nomor 15 Tahun 2005. Tadinya banyak pihak mengira di dalam PP hanya diatur pengecualian bagi sepeda motor di Jembatan Suramadu, yang kini dioperasikan operator tol PT Jasa Marga, Tbk.

Dulu, jalan tol tidak boleh dilewati oleh sepeda motor dengan alasan keselamatan. ”Tetapi, bila di jembatan dan di jalan tol para investor mampu membangun jalur khusus, kenapa tidak (diperbolehkan),” ujar Djoko.

Evaluasi

”Tentu akan ada evaluasi terhadap tiap permohonan pembangunan jalur khusus motor di tol. Akan dilihat apakah jalur itu layak dilintasi motor yang menempuh jarak jauh,” ujar Djoko.

Dia mengatakan, di luar negeri, motor boleh melaju di tol, bahkan dalam jalur yang sama. Seperti halnya di Malaysia dan di negara-negara Eropa.

Komisaris PT Jasa Marga, Tbk, Sumaryanto Widayatin mengatakan, investor tol akan menimbang dahulu untung rugi jalur khusus motor. ”Bila di daerah sub-urban, mungkin menguntungkan bagi investor tol, seperti dari Pondok Gede ke Cawang, atau Pondok Gede ke Kampung Rambutan,” ujar dia.

Lobi

Rudy mempertanyakan apakah ada lobi dari industri sepeda motor sehingga sepeda motor boleh masuk tol? ”Lantas, dikemanakan visi transportasi massal kita? Kenapa tidak sekalian membubarkan angkutan umum?” ujarnya.

Menurut Rudy, perilaku berkendara di Indonesia berbeda dengan di luar negeri. ”Motor di Indonesia tak jelas aturannya. Berhenti seenaknya untuk mengangkat telepon genggam, jalan di jalur berlawanan, hingga bila menabrak mobil, maka mobil dipersalahkan,” kata dia.

Belum lagi tidak ada kontrol terhadap kecepatan sepeda motor, lalu tidak ada pembatasan isi silinder (cc) sehingga sepeda motor mesinnya makin besar dan kecepatan makin bertambah.

Berdasarkan riset Bank Pembangunan Asia (ADB), kematian pengguna kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 30.000 orang per tahun, 70 persennya merupakan pengendara sepeda motor.

Kini di Indonesia ada sekitar delapan juta mobil dan sekitar 40 juta sepeda motor. Tiap tahun, ada pertambahan sekitar 500.000 mobil dan lebih dari enam juta sepeda motor. (RYO)

*Sumber Artikel:  Harian Kompas , Jumat, 26 Juni 2009

Categories: REPORT, TIPS
  1. June 26, 2009 at 3:58 pm

    hmmm…sulit mengomentari hal ini, secara prinsip saya sih setuju saja dengan kebijakan kendaraan boleh masuk jalur tol. Tapi yang membuat saya ragu adalah perilaku mengemudi masyarakat Indonesia masih buruk (maklum banyak orang beli SIM, hehehehehhe), kalopun nantinya motor boleh masuk tol ya sebaiknya dibuatin jalur khusus.

  2. El
    June 26, 2009 at 4:00 pm

    “Belum lagi tidak ada kontrol terhadap kecepatan sepeda motor, lalu tidak ada pembatasan isi silinder (cc) sehingga sepeda motor mesinnya makin besar dan kecepatan makin bertambah”

    CC mau dibatesin.. ?? ada ga peraturan dinegara lain yang kek gini? kok gue baru denger om stephen?? _beneran nanya_ kalo ada di berapa CC?
    yang pernah denger untuk menaiki motor diperlukan SIM berjenjang sejalan dengan makin gede nya motor yang ingin dikendarai.. kalopun ada motor yang tidak legal street bukan serta merta CC penyebabnya..

    ada kesan nggampangke.. sukanya tindakan represif.. .

    kecelakaan lebih disebabkan sikap, bukan motor itu sendiri.. jadi sikapnya yang diubah.. lha ini kok motornya yang disalahin.. aya aya wae nih bapak ahli transportasi..

    _cuma pendapat bukan ahli transportasi_ hehe piss

  3. El
    June 26, 2009 at 4:02 pm

    “Belum lagi tidak ada kontrol terhadap kecepatan sepeda motor, lalu tidak ada pembatasan isi silinder (cc) sehingga sepeda motor mesinnya makin besar dan kecepatan makin bertambah”

    CC mau dibatesin.. ?? ada ga peraturan dinegara lain yang kek gini? kok gue baru denger om stephen?? _beneran nanya_ kalo ada di berapa CC?
    yang pernah denger untuk menaiki motor diperlukan SIM berjenjang sejalan dengan makin gede nya motor yang ingin dikendarai.. kalopun ada motor yang tidak legal street bukan serta merta CC penyebabnya..

    ada kesan nggampangke.. sukanya tindakan represif.. batesin CC lah, adalagi batesin jumlah motor lah..

    kecelakaan lebih disebabkan sikap, bukan motor itu sendiri.. jadi sikapnya yang diubah.. lha ini kok motornya yang disalahin.. aya aya wae nih bapak ahli transportasi..

    _cuma pendapat bukan ahli transportasi_ hehe piss

  4. June 26, 2009 at 4:02 pm

    Terus terang saya sih pinginnya aturan larangan pengendara motor masuk tol layaknya dicabut tapi dengan syarat … undang-undang yang berhubungan dengan lalu lintas harus ditegakkan dengan benar … mulai dari konsep, tool sampai penerapannya harus benar2 jelas.

    Misal dari aspek hukum harus dibuat sedemikian keras untuk menimbulkan efek jera … orang pasti mikir 2 kali kalo ingin melanggar.

    dan juga ditambah perealisasian mass rapid transportation harus benar2 terwujud dengan sempurna mulai dari jumlah sampai ketersediaan jalur … otomatis walaupun pengendara motor dapat masuk tol lambat laun mereka juga akan berpaling ke alternatif lain .. toh meskipun praktis .. tapi sesungguhnya cape juga naik motor tiap hari buat ngantor😀

    beda topik tapi mungkin berhubungan http://www.auliabig.com/2009/06/angkot-biang-macet-di-ibukota/

  5. June 26, 2009 at 4:20 pm

    senopati, perhatikan jln. thamrin jakarta yg sudah tidak ada pemisah jalur, yg nama nya motor msh banyak yg nyolonong ke jalur cepat.

  6. June 26, 2009 at 4:30 pm

    aduh bro….kalo Jakarta ampun deh…..pernah bawa mobil kesana disenggol ama motor, tak marahin tu pengendara motor, la kok njawabnya enak banget “mas, kalo mobilnya gak mau disenggol ya taruh di garasi aja”…..fiuh…..
    kalo saya sih penginnya memperbaiki perilaku pengemudinya, karena instrumen lalu lintas seperti apapun kalo pengemudinya masih seperti sekarang ya sama aja bro….
    btw gak nyoba lewat suramadu bro..???? ngerasain sensasi “cross wind”….

  7. June 26, 2009 at 4:39 pm

    kayaknya sebelum kebijakan motor boleh masuk atau melintas di jalan tol.., harus diperketat lagi nih proses pengajuan SIM baru atau perpanjangan SIM , nggak boleh asal aja.., semua test termasuk kesehatan , test berkendara dan psikologis harus di perhatikan dan jangan sampai ada lagi SIM “nembak”. dan penyuluhan tentang bagaimana berkendara yang baik harus lebih di optimalkan oleh pihak pihak yang terkait, baik Polisi, Departemen Perhubungan, Dinas Pendidikan, bahkan kalau perlu dari Para Produsen Kendaraan…,

    Jadi motor lewat tol ? why not..hehehe…:D

    Safety Ride – Enjoy Life

  8. June 26, 2009 at 5:22 pm

    Walau saya pengendara motor, tapi kurang setuju motor masuk tol, lebih setuju ada sejenis angkutan yang bisa membawa motor secara masal; ibaratnya seperti kapal feri untuk darat. Bahkan mungkin gerbong kereta khusus pengendara motor; jadinya yang jauh2 bawa motor juga bisa istirahat; dan tidak mengurangi kepraktisan berkendara.

  9. KODOK
    June 26, 2009 at 9:45 pm

    Apabila peraturan tentang motor boleh lewat jalan tol benar2 diterapkan…..wah indahnya……

  10. June 27, 2009 at 4:23 pm

    1 kata, tidak. jangan dulu deh,

    selama mental dan perilaku bikers di jakarta/indonesia masih belum “matang/dewasa”..

    jalan di jalanan biasa ajah udah sembarangan, serampangan. palagi dikasih akses liwat tol? bisa tiap menit kecelakaan dah.

    nanti kita bisa liat, di jalan tol yg seharusnya minimum velocity 60 km/h, ada yg jalan dibawah 60, ada yg jalan 60 tapi sambil HP ato sms-an. ada yg keliwat “nekat”, motornya udah ngos2an, tapi masih aja dipaxa tembus angka 100 km/h, yg ujung2 malah bikin ribet di tengah jalan (zig zag, dengan harapan bisa nyolong angin).

    dibenahin dulu deh disiplinnya, peraturannya. buat apa peraturan ada tapi dilanggar? buat apa disiplin, tapi aturannya “abu-abu”..??

    terima kasih.

  11. June 27, 2009 at 11:20 pm

    comment dikit ah..
    kayaknya jalan tol di Jakarta bedalah sama jalan tol di Mojokerto yang dulu sempat ada, kencangnya masih batas kewajaran. Lha Jakarcha?kecepatan motor yang biasa beredar di tanah air gak ada apa-apanya dengan mobil.
    belum lagi, panjangnya yang luar biasa. tangki bensin motor kan terbatas..terus,meski tak mengharapkan, kalo kecelakaan gimana? apa ada pengawasan dan tindakan yang bisa dilakukan Jasa Marga? kalo malam yang biasa pake mobil tentu lampunya terang benderang,motor pigimane?
    kalo jarak jauh mah tetap aman dan nyaman pake transportasi massal.itu menurutku lho ya?
    peace ah..

    bikers pengguna jasa KA dan transjakarta

  12. June 28, 2009 at 11:32 am

    @ All,
    Kalo gw sih setuju aja….ASALKAN…ada mekanisme peraturan yang JELAS & TEGAS….no offense buat bro semua dan bukan untuk diskriminasi, menurut pendapat gw motor yang bisa masuk ke tol harus 150CC ke atas dengan pertimbangan kestabilan dan kecepatan dari motor itu sendiri…:D

  13. ferry
    June 29, 2009 at 7:10 am

    Klo gua gak setuju banget mau dibatasin ukuran CC motor , ada pembatas jalan, ada yang ngawasin , negara kita ini gak ada peraturan, mungkin satu bulan pertama baik2 saja, tapi sesudah itu akan lebih hancur lagi.
    Gak kebayang gua klo motor bisa masuk tol, kebut2 an yg gak perlu yang pasti akan muncul.

  14. jojo
    July 4, 2009 at 1:26 pm

    motor boleh masuk jalan tol??….kalo lagi kebanjiran di mana2 seh…boleh2 aja….lha kalo tiap ari???? di jalan yg bkn tol aja udah ngeri ngeliatnya….apalagi kalo di jalan tol??? program pengurangan laju prtmbhan penduduk kalee yaa??

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: