Home > TIPS > Tips: Hindari Kekerasan Dalam Perjalanan Touring!

Tips: Hindari Kekerasan Dalam Perjalanan Touring!


art_bikes-1

Gambar Illustrasi Touring Motor

Peristiwa yang sudah sering kita dengar, betapa buruknya rombongan pengendara motor atau iringan konvoi motor yang sering memakai jalan umum dengan seenaknya.

Pengendara motor secara kelompok sering kali tidak bisa tertib ketika menggunakan jalan umum, bahkan kecap kali mereka tidak santun dalam berkendara, selalu melanggar UU lalu-lintas, antara lain menggunakan sirene  atau strobo yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi motor aparat/polisi.

Bagi kita sebagai pengendara motor, baik secara individu maupun kelompok , baik dari kalangan klub atau komunitas dikala kita menjalani sebuah touring, marilah kita sama-sama belajar dari kejadian buruk yang dialami oleh Bapak Darmawan Edwin Sudibyo (51).

Perirtiwa kekerasan yang pernah dialami oleh Bapak Darmawan dipublikasikan melalui Redaksi Harian Kompas beberapa waktu lalu. Bahkan kasusnya kini sedang bergulir dan diselidiki oleh pihak Kepolisian RI.

Belajar dari kejadian buruk ini, semoga saja hal ini tidak terulang lagi bagi kalangan klub atau komunitas motor yang gemar melakukan touring ke luar kota. Haruslah kita ketahui secara bersama, bahwa yang mempergunakan jalan umum adalah hak semua orang, bukan hanya pengendara motor saja.

Bagi yang sudah mengenal SOP Touring, PROTAP Touring, ataupun JUKLAK Touring maka sebaiknya pedoman ini kerap disosialisasikan dulu kepada rekan-rekan pengendara motor yang lain sebelum menjalankan start touring.

Pemahaman Tata-Terib Touring adalah modal dasar bagi mereka yang gemar melakukan perjalanan motor keluar kota. Hal ini tidak tidak lain, demi keselamatan dan kenyamanan selama perjalanan itu sendiri, dan jangan pula selama perjalanan ada titik noda hanya gara-gara ulah beberapa pengendara motor yang mudah emosional dan tidak pahan dengan tata-Tertib Touring.

Dibawah ini adalah artikel menarik yang patut kita simak dan pelajari bersama yang saya kutip dari harian Kompas, Rabu 17 Juni 2009 dengan judul: Mimpi Buruk Moge pada Hari Ulang Tahun Si Bungsu Radit.

Sekiranya melalui tulisan yang telah dimuat di Harian Kompas, mampu menyadarkan kita bagi para pengendara motor agar kita lebih bijaksana, dewasa, santun,  maupun hormat terhadap pengguna jalan lainnya. Yang penting kita juga tetap mentataati peraturan lalu-lintas yang berlaku. Juga, mari kita hindari kekerasan dengan sesama pengguna jalan  dan ciptakanlah rasa aman bagi semua orang.

Bukankah keluarga mengharapkan kita pulang kerumah dengan selamat dan tidak bernoda, tidak ada cela ataupun kecelakaan dalam pejalanan?

Motor gede yang gagah dan mahal pasti bernilai sekali bagi pemiliknya. Deru suara mesinnya saja bisa mendatangkan kebahagiaan dan kebanggaan di benak penggemar moge. Namun, sebandingkah hal itu ketika sosok moge meninggalkan trauma menakutkan di benak bocah-bocah ini?

Hari itu, Minggu, 24 Mei 2009, Raditya Fajar Adinawari genap berusia empat tahun. Kedua orangtua, kedua kakak laki-lakinya, dan sang kakek membawa Radit ke Puncak, Bogor, untuk berekreasi sekaligus merayakan hari ulang tahun bocah manis itu.

Mereka pun bersama-sama makan siang di restoran Rindu Alam, lalu singgah di kebun teh untuk mengajak Radit naik kuda. Hari itu semua anggota keluarga turut serta, sang ayah, Darmawan Edwin Sudibyo (51); ibu Radit, Dian Fara Oktarina (39) yang tengah hamil lima bulan; kedua kakak Radit, Geraldino Krisna Akbar (15) dan Muhammad Athaa (7); serta sang kakek, Syahrul Malik (75).

”Kami senang sekali sebenarnya hari itu,” kata Edwin.

Menjelang pukul 16.00, Edwin dan keluarga pulang kembali ke Jakarta melalui Jalan Raya Puncak. Seperti biasa, setiap hari Minggu, tepat pukul 16.00, polisi membuka jalan tersebut menjadi satu arah dari Puncak ke Jakarta.

Edwin pun melajukan mobilnya, Nissan X-Trail, di lajur kanan. Kondisi lalu lintas seperti biasa, macet. Tak berapa lama, dari arah belakang terdengar bunyi sirene vorrijder yang membawa konvoi moge di lajur kanan. Edwin pun berusaha mengarahkan mobilnya ke lajur kiri untuk memberi ruang lebih bagi konvoi. Setelah vorrijder dan konvoi lewat dan tak muncul lagi moge lainnya, mobil-mobil yang semula agak masuk ke lajur kiri kembali ke lajur kanan, begitu juga mobil Edwin.

Namun, rupanya masih ada rombongan moge yang tertinggal. Edwin bercerita, rombongan itu tertahan mobilnya. Namun, Edwin tak bisa pindah lagi ke lajur kiri karena kondisi jalan amat padat. Sejumlah peserta konvoi langsung memukuli mobilnya. Ketika Edwin membuka jendela mobil untuk bertanya mengapa mobilnya dipukul, sebuah bogem malah mendarat di pipi kanannya. Edwin dimaki dan diludahi. Pipi kanannya pun lebam.

”Ayah dipukul, diludahi. Pintu mobil ditahan, jadi enggak bisa keluar. Kita semua di dalam cuma bisa nangis. Adik-adik menjerit ketakutan banget,” cerita Akbar (15), putra sulung Edwin, Senin (15/6). Kemarin, kedua orangtuanya tengah ke Singapura dan baru kembali hari Rabu. Ketiga anak mereka yang tengah libur sekolah sementara tinggal bersama sang kakek di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Trauma

Sang kakek, ayah mertua Edwin, Syahrul Malik, pun mengaku masih terbayang-bayang peristiwa itu. ”Saya cuma bisa istigfar. Sesak dada rasanya. Kasihan cucu-cucu saya semua ketakutan, nangis. Anak saya (istri Edwin) yang sedang hamil juga ketakutan sekali,” cerita Syahrul.

Menurut Syahrul, para peserta konvoi itu bisa melihat isi mobil, ada anak-anak dan perempuan hamil. Meski hanya berlangsung sekitar lima menit, kejadian menakutkan itu bak teror mental yang demikian membekas di benak anak-anak Edwin.

Edwin sendiri ketika itu langsung melapor ke Polsek Cisarua dan menjalani visum di klinik terdekat. Laporan itu pun langsung teregistrasi resmi di polsek. ”Saya sangat mengapresiasi sikap polisi yang sangat responsif menangani kasus saya. Menurut mereka, kejadian seperti itu sudah sering di Puncak,” tutur Edwin.

Akbar mengaku sangat geram sang ayah diperlakukan demikian kasar dan tak adil. ”Mereka, kan, terpelajar, tapi kok seperti itu. Kita (anak remaja) aja kalau berantem satu lawan satu,” ujar Akbar.

Edwin bercerita, peristiwa itu masih tampak membekas di benak kedua anaknya yang masih kecil. Jika tengah bermain di jalan di depan rumah dan mendengar deru suara motor yang keras, mereka langsung lari menjauh.

Akbar pun mengaku, dia dan adik-adiknya merasa kapok ke Puncak. ”Ke Puncak jadi ingat kejadian itu lagi. Mendingan enggak,” ujar Akbar masygul.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Suntana, Selasa, mengatakan, tim penyidiknya akan melaksanakan rekonstruksi perkara dugaan pemukulan oleh anggota konvoi moge tersebut. Tidak tertutup kemungkinan polisi pun akan mengonfrontasi saksi korban dan anggota konvoi moge.

Baik Edwin maupun Akbar mengaku masih bisa mengingat anggota konvoi jika dipertemukan kembali.

”Saya ingin rekonstruksi tersebut secepatnya. Saat ini anggota saya sedang berkoordinasi dengan saksi pelapor untuk mencari waktu yang sesuai,” kata Suntana.

Sementara itu, Kepala Polsek Cisarua Ajun Komisaris Hepi Hanafi mengatakan, sebelumnya polisi telah memeriksa tujuh anggota konvoi dari klub moge Harley Davidson di Bogor. Ketua rombongan yang diperiksa adalah Anto Nasution. Ketujuh anggota diperiksa sebagai saksi.

Menurut Hepi, konvoi tersebut diikuti berbagai klub moge Harley Davidson dari sejumlah kota, selain Bogor. Hepi mengatakan, mereka usai konvoi dari Yogyakarta (SF/RTS).

*Bahan kutipan dari Harian Kompas, Rabu 17 Juni 2009.

Categories: TIPS
  1. mogelover
    June 17, 2009 at 2:54 pm

    INI KETERANGAN PERS DARI MABUA

    Dear Youlanda and All,
    Menanggapi berita di harian Kompas mengenai hal tersebut, saya telah mendapat masukan dari salah seorang anggota patwal Polres Bogor yang pada
    saat kejadian sedang melakukan pengawalan terhadap rombongan dimaksud.
    Ketika itu rombongan terputus dan salah satu penyebabnya adalah karena pengendara Nissan Xtrail tidak bersedia memberi jalan kepada rombongan
    yang sedang melintas dan dalam pengawalan polisi tersebut.Salah seorang pengendara bernama Anto terjatuh karena di tabrak oleh pengendara mobil tersebut
    yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya keributan diantara mereka.
    Polisi melerai dan selanjutnya melakukan proses atas kejadian ini.
    Saya harapkan setiap fihak menahan diri untuk tidak mengambil reaksi yang berlebihan atas kejadian ini.
    dan agar penanganan kasus dilakukan lebih terarah
    saya telah meminta pak Djoko Saturi selaku Sekjend HDCI untuk mengambil langkah-langkah yang perlu,
    yaitu antara lain meminta keteranganlebih jauh kepada anggota klub H-D di Bogor ( kemungkinan klub ini yangmengetahui lebih rinci)
    dan selanjutnya membuat klarifikasi atas kejadian itu di Surat Pembaca harian yang sama,
    agar pemberitaan bisa lebih proporsional.
    Rencananya pada hari Kamis yad Polsek Cisarua akan mempertemukan kedua fihak untuk penyelesaian kasus tersebut.
    Sebagai dealer resmi tentu saja Mabua Harley-Davidson merasa prihatin serta menyesalkan kejadian yang menimpa salah seorang pengendara motor besar tersebut,
    namun demikian mengingat kasus telah ditangani oleh yang berwajib,
    maka kita percayakan sepenuhnya kepada penegakan hokum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Demikian, atas perhatian yang diberikan, diucapkan terima kasih.

  2. giZmo
    June 17, 2009 at 4:30 pm

    Hahahaha.. (kalo ketawa ngakak krn baca keterangan pers sperti ini, dituntut ga ya??)

  3. June 17, 2009 at 6:36 pm

    gini bro…saya dari dulu memang selalu menyayangkan dengan sikap para bikers apabila sedang berada dalam konvoi, disini psikologi massa benar2 terlihat. ini salah satu alasan kenapa saya lebih suka menjadi privater biker. saya lebih berharap kepada para bikers agar lebih mengedepankan safety ridding yang mana menurut saya juga termasuk di dalamnya adalah mentaati aturan lalu lintas.
    sering kali saya melihat konvoi bikers tanpa pengawalan polisi yang melanggar lampu merah dan apabila ada kendaraan yang menghalangi mereka akan marah-marah, apapun alasannya saya tetap berpegang pada aturan bahwa kendaraan yang memiliki prioritas lebih adalah presiden,ambulan, dan mobil jenazah, kalaupun itu konvoi ya harus ada pengawalan polisi.
    saya juga pernah hampir bermasalah dengan kelompok bikers tertentu karena saya tidak mau jalan terus di sebuah traffic light yang mana pada waktu itu traffic light merah dan jelas-jelas mereka tanpa pengawalan, dan pada akhirnya mereka mengalah berdebat dengan saya, waktu itu saya tunjukkan buku UU no.14 tentang undang-undang lalu lintas dan tabel pelanggaran yang diterbitkan oleh kejaksaan.
    tindakan-tindakan seperti inilah yang membuat citra bikers menjadi semakin buruk…..

  4. piss rider
    June 18, 2009 at 8:52 am

    s7 ma Bro Senopati, psikologis massa memang brasa bgt kalo lg konvoi,n gw jg pernah lg lampu merah di per4an imam bonjol disuruh jalan, tp bedanya kalo lo ga mau, kalo gw mau? coz yg nyuruh polisi, n ternyata diblakan gw ada rombongan capres/cawapres hehehe,…
    tp miris jg sih baca berita diatas, tapi berhubung da dilimpahkan ke yg berwajib mudah2an selesai sampe tuntas n ga pandang bulu,jangan ada “jelita” & “jelata” seperti yg ada disurat pembaca diharian yg sama…
    kalo menurut gw riding tu ga cuma safety yg diperlukan tp,…
    Piss, Love, Unity and Respect…

  5. 4dw4rds
    June 18, 2009 at 10:41 am

    klo yg ini nissan xtrail vs HD, at least sama2 orang kaya.. yg kacian klo orang ga mampu yg jd korban, ga bs apa2.
    smoga ga terjadi lg yg beginian!
    🙂

  6. June 18, 2009 at 3:14 pm

    setuju banget……….:-)

  7. Rio
    June 19, 2009 at 4:41 pm

    Untuk masalah ini, tunggu hasil investigasi, kata mas Indro juga mendukung pernyataan diatas…
    Si Edwin yang pertama cari masalah..

    nah media sekarang berada di pihak mana..ini yang kita gak tau..😀

  8. mogelover
    June 21, 2009 at 2:15 am

    kalo semisal ada rombongan moge,menerobos lampu merah,sepanjang hal tersebut dilakukan mengingat rombongan yang panjang sekali,atau dikhawatirkan mengganggu pengguna jalan lainnya maka hal itu dibenarkan,dan itu sepenuhnya pertimbangan dari foreijder atau road captain (biasanya dari aparat kepolisian)
    tetapi,bila rombongan kecil maka seharusnya road captain mengambil keputusan berhenti di lampu merah (mematuhi signal lampu merah) ada di juklak perhubungan.
    jadi buat temen2 yang mungkin ketawa baca keterangan pers diatas,atau malah ngga perduli,maka anda termasuk orang yang arogan,karena seseorang tidak boleh dianggap bersalah sebelum dibuktikan oleh hukum.
    setau saya ,proses hukum di polres bogor masih berlanjut,dan pelaku pemukulan belum diketahui siapa orangnya,tetapi pak edwin sudah mengakui bahwa beliau menabrak motor bpk.anto,dikarenakan beliau ingin lepas dari kemacetan jalur puncak dan berniat utk mengikuti rombongan moge dari belakang,tetapi tidak tau masih ada moge dibelakangnya.
    dan utk jawaban anak2 yang trauma,istri dan mertua yg stress…heheheheh logika aja,ampe sekarang bpk.anto plus bpk edwin,belom bisa ketemuan krn bpk edwin berlibur ke LN,anak2nya ditinggal semua di indo,apa itu tanda stress???hehehehehe boleh dipertimbangkan sendirilah…
    sampai detik ini,setau saya bpk.anto sudah menunggu dipertemukan dengan bpk.edwin,tapi yang bersangkutan mengundurkan jadwal pertemuan krn sibuk.
    padahal dia yg lapor polisi,dia yg dirugikan (katanya) koq malah pengen kasusnya ngga selesai2???tanya kenapa…..

  9. June 21, 2009 at 6:46 am

    mogelover, Thanks ya sudah nambahin info, biar semakin jelas, up date status gitu loh! Setidaknya pengalaman buruk ini menjadi perhatian bagi bikers/club/komunitas yg hobi touring utk lebih hati2. Peran RC (Road Captain) atau GL (Group Leader) sangat diperlukan, apalagi saat briefeing sebelum start, memberikan arahan yg bijaksana terhadap anggotanya. Konvoi dipecah-pecah jadi 10 riders per group dengan selang 10 menit saat start, mungkin ini menjadi pilihan, agar konvoi tidak begitu menyolok.

  10. June 21, 2009 at 10:41 pm

    acuan saya selama konvoi itu tidak dikawal polisi bagi saya tetap harus mematuhi aturan lalu lintas, dan harus mematuhi ketetapan prioritas yang ada di UU No.14, road captain ataupun foreijder yang bukan dari kepolisian tidak memiliki hak ataupun wewenang untuk mengambil keputusan melanggar lalu lintas ataupun aturan lalu lintas yang lain. nah cara yang cerdas adalah seperti yang disampaikan oleh bro stephen dibawah, bagi menjadi beberapa kelompok. saya menerapkan management touring seperi halnya dalam ilmu Operation System, queue yang terlalu banyak akan membuat proses menjadi lambat dan tidak efektif, sama seperti halnya konvoi yang terlalu panjang akan membuat jalan terlalu padat antriannya dan semakin sulit mengaturnya….hingga akhirnya nanti akan menimbulkan hal-hal yang sifatnya memaksakan diri.
    mengenai kasus diatas kita tidak usah menilaai siapa yang benar ataupun salah, kita ambil hikmahnya saja……

  11. June 22, 2009 at 11:27 pm

    Wah..kalo ribut2 di jalan seh mungkin dah biasa dan sering bgt terjadi,dari mulai pukul dan tendang mobil sampe pukulin supir nya juga itu kasus2 di jln.tapi kalo sampe diludahin itu seh dah kelewatan bro..apalagi kalo tmn2 nya pada ikut ngebantuin,yaudah..Wasalam tu supir..

  12. mogelover
    June 23, 2009 at 7:36 am

    untuk garonk, di BAP tidak ada tuh tuduhan meludahi??hanya ada pemukulan dan gebrak2 mobil saja…

  13. Joseph
    June 23, 2009 at 10:53 pm

    Saya gak tau mana yang benar/ salah, but:

    1. Everything have rules.
    2. Pengendalian diri pada saat touring sangat dibutuhkan.
    3. Jalan bukan milik pribadi so keep share each other.
    4. Safety riding bukan berarti safe untuk pribadi/ golongan tapi juga untuk pengendara lainnya.

    Yang terakhir kembali ke diri kita masing” bagaimana kalo kita yang mengalami hal tsb.

    Jangan dituntut yah😀
    Just my opinion

  14. mogelover
    June 24, 2009 at 9:02 pm

    bang yoseph…
    ngga ada yg nuntut koq,qt malah terimakasih ada perhatian dan kritik membangun seperti ini,ayuh saya pribadi juga pengen tau neh,akhir dari kasus hukum ini,mari qt dukung penegakan hukum di Indonesia,tapi dengan catatan jangan maen fitnah,maen tuding,kan belum terbukti siapa yg bersalah,ok..thx all

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: