Home > REPORT > Surabaya Post: Saat Kiai Jadi ‘Jamaah Fesbukiyah’

Surabaya Post: Saat Kiai Jadi ‘Jamaah Fesbukiyah’


Koran Surabaya Post, Kamis, 28 Mei 2009 memuat tulisan wartawan Nanang Krisdinanto yang rasanya cukup menarik untuk disimak berkaitan dengan perkembangan Facebook di wilayah Jawa Timur.

Ketika saya membaca koran ini di Bandara Internasional Juanda  Surabaya, Kamis 28 Mei sore, saya pun  langsung tersenyum sendiri. Sesampai dirumah, saya segera melihat artikel ini lagi melalui www.surabayapost.co.id

Artikel dibawah ini adalah hasil copy paste dari koran tersebut:

Boleh-boleh saja Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur (FMP3J), mengharamkan Facebook. Tapi bos NU sendiri, KH Hasyim Muzadi, justru namanya beredar di Facebook.

Kiai besar seperti KH Abdurrahman Wahid dan KH Fuad Amin Imron, Hasyim Muzadi, dan KH Mustafa Bisri juga tercatat punya Facebook bahkan dengan puluhan  fan page.

Masih sempatkah para kiai yang super sibuk itu merawat akunnya? Sejumlah anak-anak muda NU –yang banyak di antaranya juga menjadi anggota “jamaah Facebook” atau dipelesetkan menjadi “jamaah Fesbukiyah”– bahkan sempat melontarkan pertanyaan bernada guyon, apa para kiai itu menggunakan Facebook?

“Wah, jangankan Facebook atau internet, menghidupkan komputer saja belum tentu bisa ha-ha…,” begitu guyonan seorang anggota lembaga otonom NU di Surabaya, yang menjadi salah satu teman Facebook Hasyim Muzadi dan Gus Dur.

Tentu saja kata-kata itu canda belaka, lantaran warga NU yang sering disebut “kaum sarungan” ini memang sering dianggap gaptek (gagap teknologi). Tapi dunia memang sudah berubah, begitu pula dunia “kaum sarungan.” Komputer, laptop, internet, dan HP yang bisa mengakses internet mulai merambah pondok-pondok pesantren, yang sebelumnya dianggap serba tertinggal. Karena itu di tengah kontroversi pengharaman Facebook, ketika nama-nama sekelas Hasyim Muzadi, Gus Dur, dan Fuad Amin Imron ternyata juga beredar di situ, muncul banyak pertanyaan sekaligus guyonan.

Bagi Fuad Amin Imron, misalnya, gaptek bukan alasan tidak bisa berselancar di Facebook. Masih ada anak buah yang bisa ditugaskan membuat akun dan mengoperasikannya, bukan? Itu sebabnya, meski mengaku gaptek Fuad Amin juga punya akun di Facebook, yang digunakannya mencari informasi dan masukan dari rakyat dan daerah lain. “Tapi saya sendiri jarang menggunakan, sehari-hari dioperasikan staf,” katanya.

Menurut dia, banyak manfaatnya seperti mencari tahu perkembangan daerah lain lewat cerita dari teman Facebook. “Dari situ kan bisa studi banding,” katanya.

Tidak takut dianggap menggunakan barang haram? “Ah itu kan tergantung penggunaannya. Ibarat gunting, kalau dipakai membunuh ya haram. Tapi kalau dipakai menggunting kain kan memudahkan kerja,” jawabnya..

Di kalangan kiai muda, Facebook juga mewabah. Salah satu yang bisa dibilang nyaris tiada hari tanpa Facebook adalah KH Abdul Hamid Wahid, pengasuh Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Putra almarhum KH Wahid Zaini itu tiap hari melansir status baru, dan aktif berkomunikasi –baik melalui komputer, laptop, maupun HP– dengan teman-teman mayanya.

Hasyim Muzadi sendiri, saat dihubungi Surabaya Post di tengah muhibahnya ke Austria, Kamis (28/5) pagi tadi, tegas-tegas menyatakan Facebook hanya alat, sehingga tidak bisa dikenai hukum haram seperti itu. Artinya, baik dan buruk alat itu tergantung tujuan dan penggunanya. Dia membandingkannya dengan pisau. “Kalau dipakai masak ya baik, tapi kalau dipakai nodong orang ya jelek,” katanya.

Karena itu menyikapi pengharaman Facebook oleh FMP3J, Hasyim mengembalikannya kepada penggunanya. “Kalau alat itu digunakan untuk keburukan, ya jelek. Sebaliknya, kalau digunakan untuk kebaikan, ya baik. Begitu saja,” ujarnya.

Seperti diketahui, fatwa haram itu diputuskan berdasar bahtsul masail di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat, Lirboyo, Kediri. Menurut FMP3J, cara berkomunikasi yang dilakukan dalam Facebook (dan Friendster) tidak berbeda dengan komunikasi langsung. Berdasar hukum Islam, cara komunikasi ini bila dilakukan dengan lawan jenis diharamkan.

Fatwa ini pun memicu reaksi, yang bahkan sampai ke tanah leluhur Facebook. Kantor berita yang bermarkas di New York, Associated Press, misalnya, ikut melaporkan kasus ini, yang kemudian dikutip ribuan media pelanggannya di sekujur dunia. Reaksi di kalangan “jamaah Facebook” lebih keras. Selain terlihat di komentar-komentar lepas atau isi-isi status, penolakan juga muncul dengan mengatasnamakan Majelis Umat Facebook, yang juga menggalang kampanye di Facebook. Pemilik akun Facebook di Indonesia –yang berdasarkan data Palo Alto California (lembaga independen pusat operasional Facebook) berjumlah 813.000 orang, termasuk banyak di antaranya tokoh-tokoh NU sendiri— dengan mudah mengakses kampanye ini.

Perut Diisi Radio

Tapi, apa mungkin orang sesibuk Hasyim Muzadi, Gus Dur, atau Fuad Amin Imron sempat mengurusi teman-teman dunia maya? Hasyim Muzadi, misalnya, ternyata tidak tahu ada akun atas nama dirinya di Facebook. Di Facebook, akun itu terdaftar atas nama Achmad Hasyim Muzadi (berikut foto profil), yang hingga Kamis hari ini memiliki teman 3.803 orang. Sebagaimana lazimnya akun lain, Hasyim juga tampak cukup rajin menulis status yang kemudian dikomentari ratusan teman-temannya.

Tapi ya itu, Hasyim sendiri terheran-heran saat disinggung perihal akunnya. “Saya ndak punya akun di Facebook. Nanti setiba di Indonesia saya akan cari tahu siapa yang membuatkan akun itu,” katanya.

Saat ditanya apakah dirinya pernah meminta stafnya di PB NU atau Ponpes Al Hikam, Malang, membuatkan akun itu, Hasyim juga menjawab tidak. “Saya juga ndak pernah menyuruh orang mbikinkan akun di Facebook. Yang jelas, saya ndak punya hubungan apa-apa dengan Facebook,” tegasnya.

Dia hanya tertawa saat diberi tahu punya ribuan teman di Facebook. “Koncone sopo wae iku. Yang jelas, saya ndak punya hubungan apa-apa dengan Facebook. Ndak sempat ngurusnya. Jangankan teman dunia maya, teman dunia nyata saja sudah keteteran ngurusnya…,” katanya.

Kecurigaan terhadap “akun Hasyim Muzadi” bukan hanya muncul dari Hasyim Muzadi. Sejumlah teman yang mengomentari status Hasyim juga menyiratkan hal serupa, meski sebagian besar percaya memang sedang berkomunikasi dengan Hasyim Muzadi yang sesungguhnya. Tapi bagi yang mengenal sosok Hasyim, status yang dilontarkan dalam akun itu memang terkesan “bukan Hasyim banget.”

Misalnya, pada 2 Mei, dalam status akun itu tertulis: “Saya jelas tahu, siapa yang akan saya pilih. Tapi yang pasti, bukan PKB apalagi PKS.”

Bagi yang kenal, jelas ini bukan gaya Hasyim. “Ndak mungkin Pak Hasyim bikin komentar sevulgar itu. Pak Hasyim itu lihai, ndak mungkin sikap politiknya terlihat seterang itu,” kata seorang pengurus PW NU Jatim yang juga membaca status itu.

Keraguan juga muncul dalam komentar-komentar atas status itu, mulai yang bernada serius, sampai kesal berbaur guyonan.

Misalnya: “Ini beneran pak kiai atau bukan sih? Mencurigakan…”

“Biasaya kia hasyim pakai tanda-tanda, nggak terang2 gini”

“Bener ga sih? yang saya kenal pak kiai ga pernah kasih statement seperti itu…..sangat mencurigakan”

Seorang teman maya yang mengaku santri Hasyim bahkan dengan nada kesal berkomentar, “Nanti tak coba matur sama Abah, biar pembajak ini disantet, perutnya diisi radio.”

Lalu siapa sesungguhnya di balik akun Hasyim Muzadi ini? Tidak jelas. Namun sebagian kalangan anak-anak muda NU Jatim –yang banyak di antaranya juga menjadi anggota “jamaah Fesbukiyah”— menduga, ada staf Hasyim yang memang berinisiatif membuat akun atas nama bosnya sebagai sarana sosialisasi dan komunikasi. Hasyim sendiri, yang memang biasanya tak pernah rewel dengan urusan seperti ini, belum diberitahu.

“Tapi repotnya, yang tertulis di sana jadi bias: itu pendapat Abah Hasyim atau pendapat penulisnya?” ujar seorang pengurus banom di PW NU Jatim.

Nah kalau sudah begini, bagaimana?

Catatan:

Naskah ini dikutip dari Koran Surabaya Post hal. 1. Kamis 28 Mei 2009

Categories: REPORT
  1. anggiwirza
    May 28, 2009 at 11:25 pm

    kyai juga manusia ya bro stephen…

    wong facebook di gunakan buat nambah teman dan mencari teman yang lama gak ketemu eh di haramin.

    yang bikin dosakan kalo kita fesbukan, terus lupa ibadah nah baru dah dosa….

  2. May 28, 2009 at 11:34 pm

    yup betul apa yg di ketik anggi…

  3. May 29, 2009 at 4:41 am

    Thanks for posting, I really enjoyed reading your most recent post. I think you should post more frequently, you clearly have talent for blogging!

  4. May 29, 2009 at 6:34 am

    @anggi,
    betul sekali. salah kaprah jika sebuah fasilitas/alat sudah memperbudak manusia. awalnya sih baik mau cari teman, tapi gimana jika user sudah kecanduan? sampe lupa ama segalanya..🙂 jadi, siapakah yg harus di nomor satukan dalam hidup kita ini?

  5. El
    May 29, 2009 at 8:28 am
  6. May 29, 2009 at 9:54 am

    @El.. setuju sekale..🙂

  7. edy dargo
    May 29, 2009 at 10:34 am

    Sdh tuntutan jaman, teknologi dan segalas esuatunya merupakan media, tinggal pemanfaatnya.

  8. May 29, 2009 at 4:15 pm

    @Edy dargo, Setuju. Semua lapisan masyarakat sudah saatnya masuk ke dunia internet. Seperti sejarah penggunaan HP.. dulunya hanya orang tertentu, tapi lama-lama akhirnya semua orang pun sudah memilikinya.. hanya masalah waktu yg akan membawa manusia dalam perubahan jaman..🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: