Home > REPORT > DDOCI: Short Touring To Puncak Pas-Mega Mendung

DDOCI: Short Touring To Puncak Pas-Mega Mendung

October 13, 2008 Leave a comment Go to comments

Jakarta, Sabtu 11 Oktober 2008. DDOCI (Ducati Desmo Ownwers Club Indonesia) kembali mengadakan hajatan dengan tajuk ‘Bakti Sosial’ di sebuah masjid di kawasan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Namun sebelum acara baksos, perjalanan touring pendek tersebut betul-betul dimanfaatkan oleh para bikers Ducati ‘warming-up riding’ menuju Puncak Pas Resort, tepatnya di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur.

Sesuai dengan perjanjian, semua peserta yang akan ikut diminta ngumpul di CiTOS (Cilandak Town Square) pukul 05.30 WIB. Perjalanan dipagi hari menuju Bogor dan Puncak Pas, kondisi jalan diharapkan masih belum terlalu ramai.

Tampak cuaca sekitar CITOS baru saja turun hujan di subuh hari, masih ada genangan air dijalan dan juga terlihat awan masih mendung menutupi wilayah Jakarta Selatan. Tiupan angin pun sayup-sayup masih terasa. Yang pasti udara sekitar CITOS masih terasa sejuk.

Menurut Ketua Umum DDOCI, Bro Didi Wiroreno, yang datang ke CITOS sekitar pukul 05.40 mengatakan bahwa bakal ada sebelas bikers yang akan berangkat bareng naik motor, dan beberapa diantaranya ada tiga bikers yang membawa boncenger. Beberapa angota DDOCI juga mengajak anggota keluarganya beserta anak-anak, namum mereka naik mobil.

Canda dan gurauan diantara kebersamaan bikers Ducati membuat suasana betul-betul menjadi hangat, dan sebenarnya waktu sudah menujukkan pukul 06.15. Sepertinya Bro Didi masih menunggu seorang rekan Ducati yang belum kelihatan, yaitu Bo Eko Wijayanto, sebagai Koordinator Acara/Program.

“Kita tunggu dulu ya.. soalnya yang punya acara belum datang nih” ujar Bro Didi yang punya wajah murah senyum ini. Sementara itu ia pun mencoba ‘dial up’ melalui hp-nya, tapi pada akhirnya sosok yang ditunggu pun datang juga dengan motor bersuara megafone.

Semua rekan Ducati yang ada di CITOS menatap kehadiran bro Eko ini sambil memperhatikan ada yang berbeda dari biasanya. Sepertinya memang ada satu hal yang berubah, yaitu semula berukuran besar kini menjadi ukuran sedang. Melihat postur badan Bro Eko yang lumayan besar sebenarnya masih tetap sama, dan ternyata motor Ducatinya sedang berubah menjadi Honda Tiger 200 CC.

‘Sorry bro.. motor Ducati gue akinya lagi soak, kagak bisa dipake, terpaksa gue pake Tiger dulu”, ujarnya sambil tergopoh-gopoh, ia merasa sudah terlambat. “Tenang bro.. it’s okay” ujar seorang rekan mencoba menghibur dan semua rekan-rekan Ducati pun bergeser lebih dekat ke motornya bro Eko dimana ia berdiri.

Kembali canda dan gurau bergulir lagi di depan lobi CITOS yang masih sepi, padahal tempat ini sebenarnya ramai diwaktu sore/malam hari. Sosok Ketum DDOCI, bro Didi Wiroreno memang sangat ramah dan mudah bergurau membuat ia pun jadi rada-rada sungkan menetapkan waktu untuk start.

Akhirnya ia pun melakukan briefing antara lain menjelaskan rute perjalanan, tujuan perjalanan, villa yang akan dituju, pemberhentian SPBU, barisan motor dan menetapkan petugas sweeper. Terdengar suara bro Eko Wijayanto jika ia lebih senang jadi sweeper di belakang. Namun beberapa rekan Ducati pun mempertanyakan posisi bro Eko jika ada di paling belakang, tapi hal ini malah disambut dengan canda dan tawa.

Sebelum perjalanan di mulai, bro Didi memimpin doa diikuti oleh semua rekan Ducati. Usai doa, masing-masing peserta beranjak ke motornya mempersiapkan diri dengan jaket, helm dan sarung tangan.

Di bawah ini beberapa foto di CITOS menjelang START:

Meninggalkan CITOS melalui jalan TB Simatupang pukul 06.30; tampak kondisi lalu-lintas sudah mulai ramai. Untuk perhentian pertama adalah SPBU Pertamina Jalan TB Simpatupang dimana beberapa bikers Ducati perlu mengisi bensin.

Ada hal yang lucu atau juga aneh, hanya berjarak 500 meter saja, antara CITOS dan SPBU, rombongan sepertinya telah kehilangan satu biker, lagi-lagi bro Eko yang harus ditunggu hampir 10 menit. Ketum DDOCI, bro Didi Wiroreno kembali dibuat agak gelisah dan perlu mengkontak lagi bro Eko melalui HP-nya.

Akhirnya bro Eko kembali nongol lagi. Sepertinya ‘dia tidak perlu ditunggu.’ Tak lama kemudian perjalanan pun dilanjutkan lagi.

Rute yang dipilih adalah melewati Kota Depok, Kampung Tengah, Pemda Kab. Bogor, Warung Jambu, Ciawi, dan terus ke arah Puncak Pas.

Jalan TB Simatupang Cilandak Jakarta Selatan dilalui dengan lancar namun ramai. Ketika melewati ‘fly over Tanjung Barat’ terlihat matahari di ujung Timur masih ditutup awan dan sepertinya cuaca memang masih mendung padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.15 dimana biasanya matahari sudah bersinar terang.

Jl. Lenteng Agung-Margonda Raya lancar dan ramai. Konvoi sejenak berhenti di traffic light pertigaan Margonda Raya-Juanda Depok dan setelah itu perjalanan di lanjutkan lagi dengan kecepatan motor yang sedang-sedang saja.

Semua motor Ducati memiliki horse-power dan cc yang besar, antara 600 cc s/d 1000 cc sehingga jalur Lenteng Agung – Margonda Raya paling tinggi dapat dirasakan hanya sampai dengan gigi tiga.

Penulis mengendarai motor sport-touring Ducati ST2 yang berada di paling belakang. Posisi ini sambil memantau keberadaan Bro Eko dengan Honda Tigernya. Ternyata bro Eko, mampu menyesuaikan kecepatan dengan motor Ducati yang berada di depannya, bahkan ketika melewati lajur bercabang setelah Lenteng Agung, bro Eko malah tancap gas di jalur kanan sedangkan konvoi Ducati ambil jalur kiri.

Salah satu rekan DDOCI menggunakan motor baru BMW R 1200 GS yang dikenal sebagai motor adventure touring. Penulis membuat artikel terpisah mengenai sosok dan seluk-beluk motor ini.

Meninggalkan Jl. Margonda Raya, konvoi berbelok ke kiri menuju Jl. Tole Iskandar dan selanjutnya menyebrang jembatan kali Ciliwung. Disekitar kawasan ini terasa hujan gerimis tipis namun perjalanan tetap dilanjutkan. Setelah melewai pertigaan Depok I, konvoi berbelok ke kanan menuju Kampung Tengah dan selanjutnya arah Pemda Cobinong dan Bogor.

Kondisi di kawasan Kampung Tengah – Pemda Cibinong dan Bogor banyak tikungan yang dapat dinikmati oleh semua bikers Ducati. Terasa speed lebih cepat dari sebelumnya. Posisi badan bikers ketika menikung terlihat sambil ‘merebahkan badan’ sehingga konvoi terlihat serasi.

Namun sayang, keramaian dan hilir mudik mobil maupun motor dari arah lawan beresiko tinggi jika penulis harus mengambil foto sambil riding. Moment-momen penting di jalur ini sama sekali tidak bisa direkam dengan foto.

Memasuki Kota Bogor, cuaca agak terang namun matahari masih tertutup awan. Penulis melihat kaca spion ke arah kebelakang dan tampaknya bro Eko, setelah melewati Pemda Cibinong ia sudah tertinggal jauh. Tapi, ketika konvoi berhenti di traffic light Jl. Padjajaran Bogor, tampak bro Eko sudah ada di belakang motor penulis. Wah.. maksa juga nih motor Tiger nempel ketat Ducati.

Ketika berhenti di traffic light ini, penulis mengeluarkan kamera memotret bro Eko yang tampaknya sedang melihat jam dan berbicara dengan biker ‘The Yellow One Ducati’, bro Jewel Iskandar.

Mulai dari traffic light Jl. Padjajaran Bogor ini, bro Eko tampaknya ingin menjauh dari konvoi Ducati (alasan tidak jelas). Yang pasti konvoi makin menambah kecepatan di sepanjang Jalan Tajur, Ciawi, hingga kawasan Gadog.

Sesekali Bro Wiroreno mengurangi kecepatan dan berusaha memantau rombongan paling belakang, tidak lain perhatiannya kearah penulis sendiri. Pada awalnya konvoi Ducati masih biasa-biasa saja, tertib dalam satu barisan ketika masih melewati Gadog, Mega Mendung dan hingga Pasar Cisarua. Konvoi Ducati makin lama makin melaju dengan kencang mendahului semua mobil, maupun motor yang ada di depan.

Sejak meninggalkan kemacetan Pasar Cisarua dan pertigaan Taman Safari Indah, urutan konvoi pun sudah mulai berubah. Tampaknya bikers yang membawa boncenger makin lama makin tercecer masuk urutan belakang.

Sudah pasti dan sangat masuk akal, saat memasuki kawasan kebun teh, kondisi jalan makin sepi, dan nikmatnya jalan puncak membuat para solo-riders Ducati saling berlomba sampai finish Puncak Pas Resort. Entahlah.. sensasinya pasti tidak dapat dikatakan lagi!

Mengendarai motor Ducati ST2 yang dikenal sebagai motor sport-touring, sebenarnya sangat nyaman, tapi setelan shock-breaker terasa sangat keras mungkin setelan lebih pas buat main di sirkuit Sentul. Hal ini memaksa penulis kerja keras menahan stang yang sering gemetar. Tapi yang pasti, setiap melahap tikungan kawasan kebun teh, setidaknya bisa dinikmati sambil merebahkan diri dan duduk keluar jok, ibarat ikut balap Moto GP..🙂

Saking asiknya menikmati tikungan-tikungan di kawasan kebun teh puncak, momen merekam foto pun tidak begitu memuaskan. Ada beberapa kendala antara lain, karena kecepatan tinggi, urutan konvoi sudah pecah, dan kamera pun sedang mengalami ‘salah setelan.’

Foto-foto suasana Puncak Pas sekitar pukul 08.30 s/d 09.30 WIB

Usai acara ‘breakfast‘ di Puncak Pas Resort, konvoi melanjutkan perjalanan menuju sebuah villa di Mega Mendung untuk seterusnya pukull 11.00 mengikuti acara ‘bakti sosial’ dan dilanjutkan dengan acara makan siang, dan acara keluarga di villa tersebut.

Artikel mengenai acara baksos di tulis secara terpisah.

The End.

Categories: REPORT
  1. October 13, 2008 at 10:37 am

    Wah.. laporannya sudah keluar. Mantaff….:0

  2. euronesia
    October 13, 2008 at 11:04 am

    Wah kelihatannya seru banget ya…
    sayang gue ga bisa ikut…. memang kadang sulit kalo kerja freelance gini…
    anyway, nice to see you guys had fun.

    Cheers

  3. October 13, 2008 at 11:33 am

    enak ya… sayang boros bensin😆

  4. October 13, 2008 at 11:45 am

    acara menarik selalu pas saia lagi di luar … payah … (konspirasi ddoci nih)

  5. October 13, 2008 at 11:53 am

    bravo ducati club….

  6. October 14, 2008 at 7:30 am

    Satar…kita kapan bisa ikutan lagi? malu nih ama bapak-bapak sesepuh🙂

  7. [R]dee
    October 15, 2008 at 6:21 am

    wah..ad yg pk tigi jg tuh si bro eko..brti next turing,bs ikutan nih pk tigi jg,hehhe..emg kmna monster silvernya eko??

  8. ekowd
    October 15, 2008 at 9:26 am

    Hehehe…. Monster ane bocor pakingnya. Emang dasarnya motor tua. Jadi terpaksa istirahat sambil persiapan jalan ke bali minggu depan.

    Masalah menunggu di SPBU, ane kebetulan tertahan karena boncenger mendadak nelpon mau ikut walaupun belum sehat. Jadi diskusi dulu, karena kalo dia jadi ikut ane terpaksa putar balik untuk ganti naik mobil. Akhirnya ane bisa meyakinkan dia untuk istirahat di rumah sampai bener2 sembuh.
    Di citos ane sudah pesan ke road captain untuk tidak menunggu ane apapun yang terjadi, makanya ngga nyangka kalo bakalan ditungguin. Sorry ye :-p

    Hehehe… lepas pemda bogor ada rekan ddoci yang ‘menunggu’ ane, walaupun beberapa kali ane bilang tinggal aja. Waktu awal2 ane ditinggal, justru bisa ‘all out’, malah bisa keep up. Tapi saat ditungguin, malah jadi ketinggalan rombongan lain. Soalnya waktu ditungguin, pas mendekat ane harus ngerem & akselerasi ulang pas ditinggal. Ritme overall-nya malah kacau. Hal ini terus2an sampai kota bogor, sampai akhirnya ane bisa bersebelahan dengan rekan tersebut di lampu merah & bilang untuk tinggal ane aja. Setelah itu ane bisa dapet ritme ane lagi deh. Sedikit lebih cepat dr waktu ditungguin, walaupun tetep ketinggalan.
    Tapi niatnya emang baik sih, ngga mau ninggalin ane…

    Lepas ciawi ane harus isi bensin dulu karena waktu mau ngisi di cilandak, ga enak karena udah pada nungguin. Ditambah rute menanjak ke puncak pass, udah pasti ane ketinggalan jauh disitu.

    Overall, trip yang menyenangkan walaupun ane pake tiger.
    Tetep aja next time berharap bisa naik monster. Apalagi pas turun presidente manas2in ane dengan rebah2an menikung di depan ane, padahal tau ane ga bisa rebah karena mentok standar tengah motor ane.
    Sampe bawah ujung standar tengah ane terkikis habis tuh dipaksain gesek aspal pas nikung. hehehehe

  9. October 16, 2008 at 4:56 am

    hehe lucu juga mbaca cerita Tiger ‘ngawal’ Ducati……

  10. December 23, 2008 at 11:09 am

    saya berencana ke bandung naik motor boncengan dengan isteri… motor pake jupiter MX kopling otomatis…
    kira2 apa aja perisapan dan kondisi jalan gimana?
    lewat mana aja?

  11. December 23, 2008 at 11:24 am

    @eskopidantipi,
    Saya asumsikan anda datang dari Jakarta.
    Pilih rute JKT, DEPOK, KAMPUNG TENGAH, PEMDA CIBINONG, BOGOR, CIAWI, PUNCAK PAS, CIANJUR, PADALARANG, CIMAHI, BANDUNG.
    Persiapan:
    – servis motor dan katakan kpd mekanik kalau anda mau ke Bandung bersama boncenger
    – bawa jaket hujan
    – usahakan pakai box motor
    – pergunakan helm, jaket, sepatu, sarung tangan
    – berangkat pagi dari JKT pkl.06.00 akan lebih baik
    – kondisi jalan JKT-Bandung bagus!

  12. Gatenk Perebah
    July 1, 2009 at 4:54 pm

    Lemah lo…
    Segitu dibilang rebah, miring juga kagak…
    Padahal motor mumpuni

  13. Gatenk Perebah
    July 1, 2009 at 4:56 pm

    Kenapa ga lewat bukit pelangi?
    Kan lebih asik rebahnya…
    Pada ga bisa ya?

  1. October 14, 2008 at 4:38 am
  2. October 15, 2008 at 9:30 am
  3. October 22, 2008 at 1:37 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: