Home > REPORT > gaul ala facebook

gaul ala facebook

September 14, 2008 Leave a comment Go to comments


“Yuk.. kita foto bareng.. ayo cepat sini gabung,” teriak seorang mau motret ibu-ibu muda yang lagi reuni di sebuah restoran Pacific Place Jakarta Selatan.

“Mas.. tolong foto-nya bikin tag di FB ya..” ujar seorang wanita muda bergegas pasang aksi ingin cepat di potret. Yang lain pun tertawa sambil menyebut-nyebut kata “FB”.

“Teman-teman.. kelanjutan acara reuni dapat diliat di FB ya..” teriak sang pemotret memberikan pengumuman sekaligus bubaran reuni.

Kata “FB” belakangan ini populer hampir di semua kalangan. “FB” adalah kepanjangan dari FaceBook. “

“Hari gini koq belum tau FB, udah sana cepetan buka google, ketik facebook.” Ujar seorang wanita muda kepada temannya saat pembicaraan makan siang ingin menjelaskan website Facebook yang baru dilakoni dua bulan terakhir ini.

Entahlah, apa Facebook ini sebuah website baru atau bukan, tapi yang pasti boleh dibilang facebook ini sepertinya ingin menggeser pemain sebelumnya “Friendster.” Sah-sah saja jika orang selalu ingin berpaling dan mengikuti perkembangan yang baru dan modern. Ibaratnya seperti teknologi hanphone, jika ada barang yang lebih canggih, tentu saja model lama ditinggalkan.

Belum tau FB? Langsung aja ketik www.facebook.com atau klik ini “facebook“.

[Facebook gives people the power to share and makes the world more open and connected. Millions of people use Facebook everyday to keep up with friends, upload an unlimited number of photos, share links and videos, and learn more about the people they meet.]

Di facebook bisa mencari teman lama, membentuk komunitas juga bisa, chatting bisa, mempromoiskan CV, mempromosikan weblog, dan masih banyak lagi feature facebook. Maaf, akan terlalu panjang jika ingin dituliskan disini. Namun ada dua cara mempelajari facebook dengan mudah, yaitu:

  1. Mengoprek-oprek sendiri semua menu facebook, dan/atau
  2. Membaca buku ‘Gaul Ala facebook Untuk Pemula‘ karya Dirgayuza Setiawan (tersedia di Toko Buku Gramedia harga Rp29,500)

Salah satu pengalaman yang menarik, ketika penulis mendapatkan foto tahun 1970-an dari teman FB ini. Foto itu dibuat ketika penulis masih anak SMP mengikuti Pramuka SMP Cendana Rumbai Gudep 59 di PLTA Danau Maninjau Sumatera Barat.

Gambar ini mengejutkan penulis (paling kiri), setelah 30 tahun baru melihat. Terima kasih banyak kepada Dudy Gustiza anggota FB yang memberikan “tag” nama penulis di foto tersebut.

Jika masih juga awam dengan facebook, maka cara yang mudah adalah membaca panduan buku “Gaul Ala facebook Untuk Pemula”. Atau langsung saja berhubungan dengan penulisnya Dirgayuza Setiawan. Betul gak tuh Mas Dirga?

Categories: REPORT
  1. gsx250
    September 15, 2008 at 11:30 am

    FB kadang2 berguna juga yahh mencari teman lama.. selain cari2 pacar jugaa…

  2. September 15, 2008 at 11:32 am

    @ gsx250
    hehehe.. maksudnya mantan pacar kali.. searching list friendsnya.. sapa tau?

  3. September 18, 2008 at 10:09 am

    Harian Kompas hari ini (Kamis, 18/9/08) ada artikel tentang facebook.

  4. October 7, 2008 at 5:25 pm

    berguna bgt buat nyari temen….
    nyari relasi dan bertukar pikiran….

  5. October 9, 2008 at 8:19 am

    OOT,

    Saya sudah tambahkan taut dari Stephen di blog [saya] juga untuk foto-foto wisata di Sumbar.

    terima kasih atas info-nya🙂

  6. October 9, 2008 at 2:00 pm

    @Wery,
    Apakah anda sudah gabung di facebook?

    @Vara,
    Thank you Vara. Komentar anda diatas akan saya tambahkan URL websitenya, biar bisa dilihat orang.

    Catatan:
    Hari ini saya menambahkan fasilitas promosi weblog di facebook melalui “blog network facebook”. Sangat membantu bagi mereka yang memiliki weblog pribadi, facebook ikut membantu promosi, gratis! Perhatikan menu yg ada di samping kanan (right sidebar) pada halaman ini.

  7. October 10, 2008 at 3:54 pm

    “A Tale of Three Communities: Harley-Davidson, Facebook and HTML”

    Sumber berita (kutipan) dari: Harian Kompas, Jumat 10 Oktober 2008 atau “Kompas.Com

    Jumat, 10 Oktober 2008 | 06:57 WIB

    “So screw it, let’s ride.” Maaf sebelumnya kalau kata-katanya sedikit ofensif. Tapi, tahukah Anda, siapakah yang mengatakan kalimat tadi? Itulah slogan terbaru dari Harley-Davidson (Harley) yang diluncurkan pada awal Mei 2008 lalu. Kalimatnya memang sedikit ofensif, namun hal ini justru cocok dengan citra pemberontak yang melekat pada perusahaan motor besar asal Milwaukee tersebut.

    Slogan tersebut memang mengacu kepada situasi ekonomi Amerika yang kurang baik. Dengan slogan ini, Harley seolah ingin menyatakan, tak usah terlalu mempedulikan situasi saat ini. Nikmatilah hidup dengan mengendarai Harley. Padahal, Harley sendiri juga sedang mengalami masalah. Penjualannya di Amerika menurun hampir 13% selama Q1 2008 lalu.

    Harley memang sangat memperhatikan para pelanggannya. Dengan berbagai program pemasarannya, termasuk salah satunya dengan membuat slogan baru tadi, Harley mampu menjalin ikatan emosional dengan para pelanggannya. Harley mampu berempati terhadap apa yang dirasakan oleh pelanggannya. Seperti kata salah seorang pengendara Harley, Ben Berlin, yang sudah berusia 82 tahun dan telah mengendarai Harley selama 60 tahun. Ia bilang, kalau sudah mengendarai Harley, berbagai masalah seakan bisa dilupakan untuk sejenak.

    Karena berhasil meraih hati pelanggan ini, tak heran jika Harley bisa memiliki komunitas fanatik yang tergabung dalam Harley Owners Group (HOG). Semula, komunitas ini dibentuk pada tahun 1983 oleh pabrikan Harley di Amerika. Seiring dengan waktu, para anggotanya sendiri yang terdorong untuk membesarkan HOG ini. Karena itu, tidak heran jika saat ini anggota HOG sudah mencapai lebih dari sejuta orang pada lebih dari 1400 chapters di seluruh dunia. HOG memang merupakan contoh klasik dari pembentukan komunitas offline yang sukses.

    Sekarang, bagaimana dengan komunitas online? Salah satu contoh sukses tentu saja adalah Facebook. Situs social media yang belum genap berusia 5 tahun ini—Mark Zuckerberg meluncurkan Facebook dari kamar asramanya di Harvard University pada 4 Februari 2004—perkembangannya sangat luar biasa. Saat ini saja jumlah anggota aktifnya sudah mencapai 110 juta orang! Padahal, pada Desember 2004, jumlah anggota aktifnya baru mencapai 1 juta orang.

    Perkembangan ini didorong oleh kemudahan menggunakan berbagai aplikasi dan fitur yang ada di Facebook. Selain itu, informasi pribadi dari tiap anggotanya tetap terlindungi dengan baik. Tiap anggota bisa menentukan informasi apa yang ingin di-share, dan kepada siapa saja informasi tersebut ingin di-share. Karena itu, tiap anggota bisa merasa nyaman dan aman mempublikasikan informasi pribadinya tanpa terlalu takut disalahgunakan.

    Facebook memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para anggotanya. Setiap saat mereka mengakses situs ini untuk mengetahui kabar terbaru dari rekan-rekannya. Facebook bukan lagi sekadar situs web, namun sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Perkembangan Facebook juga tidak terlepas dari jasa komunitas developer yang membangun berbagai aplikasi dengan menggunakan Facebook Platfom. Dengan demikian, perusahaan yang berpusat di Palo Alto, California, ini tidak perlu membuat sendiri berbagai aplikasi untuk para anggotanya.

    Komunitas Harley-Davidson dan Facebook ini adalah contoh Social Connector. Social Connector berbasis komunitas inilah yang menjadi jenis Connector ketiga setelah Mobile Connector dan Experiential Connector yang sudah dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.

    Nah, selain Harley-Davidson yang bersifat pure offline dan Facebook yang pure online, masih ada satu lagi jenis Social Connector ini, yaitu yang merupakan hibrida antara online dan offline. Salah satu contohnya adalah Komunitas Honda Tiger Indonesia, atau yang online community-nya lebih dikenal sebagai Honda Tiger Mailing List (HTML).

    Komunitas ini dibentuk pertama kalinya pada 18 Oktober 2000, yaitu saat milis HTML tersebut dibuat. Berbeda dengan HOG tadi, komunitas ini dibentuk dari bawah, dari para pemilik dan penggemar motor Honda Tiger sendiri. Berawal dari online community inilah, HTML kemudian juga masuk ke offline community, dengan secara rutin mengadakan pertemuan; atau istilahnya kopi darat (kopdar). Karena aktif baik secara online maupun offline inilah, komunitas Honda Tiger bisa berkembang menjadi salah satu komunitas terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota milisnya mencapai lebih dari 8000 orang.

    Bisa kita lihat, berbagai komunitas di atas—HOG, Facebook, HTML—mampu memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap lanskap bisnis. Inilah yang menunjukkan peranan Connector—dalam hal ini Social Connector—dalam lanskap New Wave Marketing.

    — Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas Jumat, 10 Oktober 2008 —

    Hermawan Kartajaya

  8. May 21, 2009 at 7:22 pm

    nama:Shinta nurfitriani
    kelas:VIIIa
    sekolah:smpn3 rancaekek

  9. Iman
    September 29, 2009 at 10:39 am

    Gmana c Cara gbung ma geng2 mtor gde?dpungut biaya gk?

  10. September 29, 2009 at 10:43 am

    bro iman, gabung aja dulu lewat forum di facebook, ada beberapa group moge di fb a.l. ducati, HD, silverhawk, dan sebagainya. Pilih aja sesuai selera/minat dan disana bisa bertanya, diskusi soal apa saja. Bergabung di group facebook tidak dikenakan biaya apapun.

  1. October 18, 2008 at 3:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: