Home > TIPS > Prosedur Tetap Touring dan Tata Tertib Yang Berlaku

Prosedur Tetap Touring dan Tata Tertib Yang Berlaku

September 9, 2008 Leave a comment Go to comments

“Wah.. belagu amat tuh konvoi motor, udah macet begini malah main kaki segala” gerutu seorang bapak bernada jengkel saat membawa mobil di sekitar Cisarua Puncak Jawa Barat hari libur nasional 17 Agustus yang lalu.

“Pak.. konvoi-konvoi motor emangnya harus ‘gitu ya? Mereka harus main kaki, membunyikan klakson berulang-ulang, bikin kesel orang aja,” ujar anaknya ikut-ikutan menggerutu yang duduk dikursi belakang seakan sudah tidak sabar melewati jalan macet tersebut.

Begitulah kesan negatif yang melekat di mata masyarakat. Mereka seakan menilai sebelah mata mengenai konvoi motor yang sering melewati kawasan Puncak Jawa Barat ketika akhir pekan atau hari libur panjang. Masyarakat menilai konvoi motor itu selalu menjengkelkan, baik di dalam kota maupun di luar kota. Belum lagi opini lainnya yang memojokkan pengendara motor sebagai biang kemacetan.

Lalu, apakah kegiatan touring ini memiliki prosedur tetap atau tata tertib? Atau sebaliknya, mereka emang seenaknya saja jalan sendiri, teriak-teriak minta jalan, memainkan klakson, bahkan harus main kaki segala?

Untuk menghindari kesalah-pahaman dan opini yang mungkin saling bersinggungan, kali ini penulis mencoba memaparkan tentang petunjuk pelaksanaan (juklak) touring, dan juga prosedur tetap (protap) touring berikut dengan tata tertib (tatib) yang berlaku.

Disini penulis menjabarkan mekanisme perhelatan touring sesuai pengalaman pribadi.

Pada prinsipnya sebuah klub motor, komunitas motor ataupun kumpulan motor lainnya ketika akan melakukan touring biasanya mereka sudah memiliki juklak, protap, tatib maupun aturan main touring, termasuk bahasa isyarat konvoi.

Mereka tidak semena-mena hanya menjalankan touring motor tanpa adanya petunjuk dan pengarahan dari seorang leader (pimpinan).

Belajar dari pengalaman bersama Komunitas/Klub Motor bahwasanya segala ketentuan touring dan tata cara berkendara seharusnya menetapkan prinsip “Safety Riding” (keamanan berkendara).

Pada prinsipnya semua Komunitas/Klub Motor sudah memiliki pemahaman, maupun penerapan ‘Safety Riding’ berlandaskan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah (PP) antara lain:

PP No. 41/1993 Tentang Angkutan Jalan
PP No. 42/1993 Tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan
PP No. 43/1993 Tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan
PP No. 44/1993 Tentang Kendaraan dan Pengemudi
UU No. 14/1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Semua anggota Komunitas/Klub motor memiliki SIM (Surat Ijin Mengemudi) dan melewati proses pengujian yang benar. Sudah barang tentu pemilik SIM sudah mengetahui sanksi hukum jika ada pelanggaran yang dibuatnya. Jika benar ada pelanggaran, itupun pelanggaran per individu dan tidak lagi menjadi kapasitas pengawasan dari Komunitas/Klub Motor.

Jika memang ada pelanggaran yang diketahui oleh Pengurus Komunitas/Klub Motor maka biasanya sanksi yang diberikan teguran melalui tulisan e-mail atau juga ketika acara kopdar (kopi darat). Namun ada juga komunitas atau klub motor yang melakukan “publikasi” melalui sarana milis (mailing list). Setidaknya sanksi melalui publikasi ini dapat memberikan efek jera bagi anggotanya yang melanggar UU Lalu-Lintas.

Ketika sebuah Komunitas/Klub Motor melakukan touring, biasanya seluruh rangkaian touring diatur dengan profesional serta penuh tanggung jawab dari para pengurusya maupun dari seluruh anggota. Tanggung jawab ini merupakan “harga diri” dari sebuah nama Komunitas/Klub Motor yang tetap harus dijaga.

DIBAWAH INI ADALAH CONTOH MEKANISME TOURING (tidak baku, hanya sekedar contoh berdasarkan pengalaman penulis)

  1. Membentuk Panitia jika touring melibatkan lebih dari 50 peserta (bikers).
  2. Menentukan PIC (Person in Charge) atau Group Leader (GL) jika peserta touring di bawah 50.
  3. Panitia/PIC menyusun acara antara lain: menetapkan lokasi, membuat nama acara, membuat maksud dan tujuan acara, menetapkan waktu pelaksanaan, menetapkan biaya, menetapkan rute perjalanan, menetapkan titik kumpul, dan menetapkan jadwal pendaftaran (batas waktu).
  4. Panitia/PIC membuat publikasi, undangan dan sosialisasi program acara touring. Sekaligus mencari sponsor (jika memungkinkan).
  5. Panitia/PIC membuatkan “Surat Jalan” yang dikeluarkan Kantor Polda/Polres/Polsek (salah satu).
  6. Panitia/PIC menetapkan “Persyaratan Standard Teknis atau Kelayakan Motor” peserta touring.
  7. Form pernyataan diisi oleh peserta antara lain data-data jika terjadi keadaan darurat, maupun pernyataan dan tanggung jawab peserta jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
  8. Setelah jumlah dan nama peserta terkumpul, Pantia/PIC harus menetapkan petugas touring yaitu: ‘Road Captain (RC)’, ‘Vooridjer (VJ)’, dan ‘Sweeper (SW)’ untuk setiap grup.
  9. Pembagian grup atau konvoi ditetapkan dengan batas toleransi max. 10 (sepuluh) motor per grup dengan interval start sekitar 5-10 menit. Masing-masing Komunitas/Klub memiliki kebijaksanaannya sendiri dan dikondisisikan sesuai dengan rute yang akan dilewati.
  10. Setiap grup masing-masing bertanggung-jawab atas grup nya sendiri. Jika terjadi pertemuan antara dua grup dalam perjalanan, terpaksa salah satu grup harus memisahkan diri. Bisa jadi grup yang tadinya ada dibelakang, diijinkan untuk melewati grup yang didepan (kasus demi kasus).
  11. Petugas touring yang dipilih oleh Panitia/PIC harus memiliki jam terbang atau pengalaman touring, karena diharapkan mampu memberikan contoh yang baik kepada anggota lainnya, khsususnya kepada yang baru pertama kali ikut touring.
  12. Jika tujuan touring ke Lampung (contoh saja), maka Panitia/PIC dari Jakarta lebih dulu menghubungi rekannya di Lampung untuk berkoordinasi perihal penyambutan, pengawalan, penginapan, rencana tujuan wisata di Lampung dan sekitarnya.
  13. Sebelum start, petugas teknis melakukan ‘screening’ untuk semua motor sesuai isian form pernyataan dan standard pemeriksaan. Jika kondisi motor, atau perlengkapan touring tidak memenuhi syarat, maka peserta dicoret atau tidak boleh ikut serta.
  14. Sebelum start, petugas ‘Road Captain (RC)’ mengadakan ‘briefing’ sekaligus sambutan dan pengarahan tentang tujuan dan maksud touring, menyampaikan tata-tertib berkendara, serta arti dan makna dari “Safety Riding”.
  15. Sebelum start, petugas RC harus jelas menegaskan tentang pentingnya ‘hak dan kewajiban sesama pemakai jalan’, ‘keselamatan umum’, ‘opini masyarakat’, ‘mengurangi bunyi klakson’, ‘peraturan lalulintas’ dan semua bikers harus tetap berlaku sopan/santun.
  16. Sebelum start, petugas RC perlu menjelaskan mengenai rute yang akan dilewati, baik arah pergi maupun arah pulang, sekaligus menentukan titik-titik pemberhentian, menentukan waktu istirahat, dan membuat kesepakatan baru jika ada dan perlu.
  17. Sebelum start, para peserta yang menggunakan RAKOM (radio komunikasi) harus saling berkoordinasi untuk menentukan saluran frekuensi yang dipergunakan. Pilihan saluran yang harus disiapkan sejak awal minimum ada 2 atau 3 channel, yaitu saluran utama dan saluran cadangan.
  18. Giliran petugas VJ melakukan pengaturan barisan konvoi sesuai ‘skill riding’ masing-masing peserta. Barisan juga disesuaikan dengan pemilik RAKOM. Pergantian urutan bisa terjadi sesuai kenyamanan maupun pengamatan petugas SW ketika grup berhenti saat isi bensin atau istirahat minum/makan. Segala sesuatunya harus bisa dikondisikan sesuai keadaan di lapangan.
  19. Petugas VJ wajib melakukan ‘briefing’ tentang tata-cara berkendara selama touring, yaitu menyampaikan “bahasa isyarat touring” atau “hand signal group riding“. Ia harus berdiri ditengah atau didepan semua peserta sambil memberikan contoh semua gerakan-gerakan atau isyarat touring yang berlaku.
  20. Pada bagian akhir diberikan waktu tanya/jawab. Setelah itu petugas VJ menutup briefing dengan berdoa, kemudian bersiap dimotor untuk segera start.

BAHASA ISYARAT TOURING

Pada bagian terakhir ini ‘VJ Touring’ wajib memberikan simulasi serta menjelaskan arti dari pada “bahasa isyarat touring” yang harus dilakukan oleh semua peserta secara berurutan. Jika ‘VJ Touring’ memberikan isyarat kaki diturunkan, artinya ‘VJ Touring’ memberikan tanda ada jalan bergelombang, atau sebagai tanda ada jalan yang berlubang, atau juga hal lainnya yang bisa membahayakan grup.

‘VJ Touring’, berada diposisi paling depan, memberikan bahasa isyarat touring yang kemudian diteruskan secara berurutan sampai pada peserta di belakang. Hal ini harus dilakukan karena penerapan “Safety Riding”, yaitu keselamatan berkendara dapat berjalan dengan baik dan lancar.

“Bahasa isyarat touring” atau “hand signals group riding” yang dipergunakan di Indonesia pada umumnya adalah sama sebagaimana telah dipakai oleh berbagai komunitas maupun klub motor di Indonesia ketika mereka melakukan touring .

CONTOH GAMBAR (dikutip dari: www.a3hog.com)

Gambar dibawah ini adalah sekedar contoh yang sekiranya harus dilakoni oleh ‘Petugas VJ Touring’ karena ia akan memimpin barisan grup, sudah tentu posisinya harus berada di barisan paling depan. Kemudian bahasa isyarat yang diberikan oleh VJ harus di ikuti oleh peserta secara berurutan mulai dari peserta nomor dua dan terus kebelakang.

Namun pada prakteknya contoh gambar-gambar yang dikutip dari website http://www.a3hog.com untuk beberapa isyarat mempunya arti dan makna yang berbeda. Hal ini karena disesuaikan dengan gaya dan riding style dari setiap komunitas, klub motor, jenis motor yang dipakai. maupun sikap dari pengendara itu sendiri.

Catatan:

Untuk setiap keterangan yang ada dibawah ini hanyalah berdasarkan pengalaman pribadi penulis ketika mengikuti touring secara grup.

1. START MESIN: Petugas VJ memberikan isyarat ‘hidupkan mesin’ dengan tangan kanan keatas sambil memainkan jari telunjuk tangan kanan.

Posisi masih berhenti dan kode start harus didahului oleh klakson dari petugas SW yang ada paling belakang. Usai klakson SW tadi, VJ memberikan acungan jempol tangan kanan/kiri agar dilihat oleh semua peserta, artinya ‘ready to go.’

2. BELOK KIRI: Petugas VJ memberikan isyarat ‘belok kiri’ dengan cara mengayunkan tangan kiri sampai batas pundak sebelum ia belok ke kiri.

3. BELOK KANAN: Petugas VJ memberikan isyarat belok kanan dengan cara mengangkat tangan kiri sampai keatas helm, dengan telapa tangan kiri tebuka mengarak kekanana. Gerakan dilulangi beberapa kali menunjuk kekanan.

4. BAHAYA DI SISI KIRI: Petugas VJ memberikan isyarat ada ‘bahaya di sisi kiri’ dengan mengangkat tangan kiri, serta menurunkan tangan kirinya ke bawah sambil membuka jari telunjuknya. Menunjuk sesuatu kebawah kiri seperti ada lubang atau jalan rusak. Cara ini jauh lebih baik dari pada dengan mengangkat kaki.

5. BAHAYA DI SISI KANAN: Kalau pengendara bisa melepas gas dengan situasi aman, maka isyarat memberikan ‘bahaya di sebelah kanan’ bisa saja dilakukan dengan mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah kanan.

6. BAHAYA DI SISI KANAN: Petugas VJ jika terpaksa memberikan isyarat ‘bahaya disisi kanan’ dengan cara mengangkat kaki kanan secukupnya. Isyarat ini bukan aksi mau menendang, tetapi hanya sekedar memberitahukan adanya bahaya dikanan karena tangan kanan pengendara harus tetap pegang handle gas

7. BAHAYA DI SISI KIRI: Sama dengan kondisi diatas, Petugas VJ bisa juga memberikan isyarat ada ‘bahaya disisi kiri’ sambil mengangkat kaki kiri secukupnya. Sekali lagi isyarat-isyarat menggunakan kaki bukan bermaksud menendang, tetapi hanya memberitahukan ada bahaya di kiri sementara tangan kiri pengendara harus pegang kopling.

8. TAMBAH KECEPATAN:Petugas VJ memberikan isyarat ‘tambah kecepatan’ dengan cara mengangkat tangan kiri sambil menunjukkan jari telunjuk kirinya. Isyarat ini bisa juga di lakukan dengan membuka telapak tangan kiri kemudian digerakkan kedepan berulang-ulang. Gerakan tangan yang lain, yaitu tangan kiri diangkat ke atas kemudian didorong kedepan. Pesannya mengatakan ‘ayo maju lagi, yuk kita lebih cepat lagi’. Isyarat ini harus melihat kondisi jalan, apakah aman serta memungkinkan kecepatan bisa ditambah.


9. KURANGI KECEPATAN: Petugas VJ memberikan isyarat ‘kurangi kecepatan’ dengan cara melepas lengan tangan kiri dari handle kopling dengan secukupnya kemudian telapak tangan terbuka dimainkan atau diayunkan dengan perlahan. Bisa juga lengan tangan kiri secara besar diayun-ayunkan agar terlihat oleh semua peserta. Biasanya isyarat ini dilakukan ketika melewati tikungan-tikungan di pegunungan atau di jalan lurus dimana VJ minta kecepatan dikurangi secara perlahan, atau juga VJ minta extra perhatian grup untuk selalu “hati-hati”.

10. RAPATKAN BARISAN: Petugas VJ memberikan isyarat ‘rapatkan barisan’ dengan mengangat tangkat kirinya keatas, mengepalkan telapak tangan kiri kemudian diayunkan beberapa kali. Isyarat ini bisa juga ketika kecepatan mendadak diminta VJ agar segera pelan dan kemudian akan berhenti karena “red traffic light” atau bahaya lainnya.

11. BUAT SATU BARIS: Petugas VJ memberikan isyarat ‘buat barisan jadi satu’ dengan cara mengangkat tangan kirinya tinggi dan menempatkan telapak tangan kirinya diatas helm terbuka menghadap ke kanan, kemudian telapak tangan tadi diayungkan seperlunya. Isyarat satu baris ini juga bisa dengan mengangkat tangan kiri kemudian memberikan telunjuk satu kiri.

12. BUAT DUA BARIS: Petugas VJ memberikan isyarat ‘buat dua baris’ dengan cara mengangkat tangan kirinya sembari memberikan dua jari sebagai tanda angka 2. Isyarat ini meminta formasi barisan grup menjadi dua dengan syarat kecepatan rendah, kondisi jalan sepi dan formasi memang layak untuk berbaris dua. Jika kondisi dua baris sudah tidak mungkin lagi, maka secepatnya VJ memberikan isyarat satu baris (no. 11).


13. STOP/BERHENTI: Petugas VJ memberikan isyarat “berhenti/stop” dengan cara melepaskan tangan kirinya dari handle kopling kemudian telapak kirinya dibuka ke belakang sambil dimainkan atau digoyang-goyang menandakan harap segera berhenti. Isyarat ini jarang dipergunakan karena isyarat no. 10 rapatkan barisan dipakai sekaligus untuk berhenti.

Seluruh keterangan mekanisme touring, maupun bahasa isyarat VJ yang telah dipaparkan diatas bukanlah suatu hal yang baku. Sebenarnya masih banyak lagi mekanisme touring, maupun isyarat-isyarat lainnya yang bisa dipergunakan ketika berkendara bersama grup. Semua mekanisme touring dan bahasa isyarat tetap disesuaikan dengan kebutuhan, juga perkembangan dari setiap grup, komunitas maupun klub motor yang bersangkutan.

RAKOM adalah salah satu perangkat yang sangat membantu dalam kegiatan touring, namun sayang tidak semua orang mampu melengkapi perangkat RAKOM di motornya (artikel sekilas perangkat RAKOM, klik ini). Tapi yang paling penting, apapun mekanismenya, bahasa isyarat, maupun cara penyampaiannya kiranya semua pihak tetap mengacu pada “Safety Riding” karena keselamatan berkendara dan keselamatan umum tetap harus diutamakan.

Semua orang ingin menikmati perjalanan dengan nyaman, dan keluarga dirumah pun selalu mendoakan agar kita selamat sampai ditujuan.

The End.

Categories: TIPS
  1. Eky
    September 10, 2008 at 1:24 am

    Splendid one bro Stephen, semoga memicu keinginan ikut touring kalo kantor lagi berbaikhati kasih ijin ha5

  2. Rio
    September 10, 2008 at 12:51 pm

    salute….semoga bisa di turunkan ke temen2 lain…
    jangan lupa ditambah pasalnya kepada PP 43.1993 Pasal 72,75,65, 66, dan 67 tentang peraturan lampu kelap kelip…
    dan mungkin yang dimaksut UU No. 14/1992 bukan PP 14/1992 yah?? soalnya PP itu bukan tentang lalin…

  3. September 10, 2008 at 2:16 pm

    @ Bro Rio,
    Thanks berat utk input dan koreksinya.
    Sudah di edit skaligus tambah link URL.

  4. Isaf
    September 10, 2008 at 6:47 pm

    ( udah ane PM via web HTML sih, ulang lagi deh biar afdol )

    Om stephen ijin sedot info di atas ya..buat ane publish lagi di milis komunitas kantor. Biar makin banyak yg taat & tertib selama melakukan touring.

    Thanks.

    ( Ane br akan publish setelah dpt cfm dari om bro…until that time, the file securely saved on my Draft. )

  5. September 10, 2008 at 7:20 pm

    @ Bro Isaf,
    Ok boleh saja.
    Info ini silahkan di forward kpd yg mau touring. Copy and paste URL ini:
    https://stephenlangitan.wordpress.com/2008/09/09/prosedur-tetap-touring-dan-tata-tertib-yang-berlaku/

    Salam Brotherhood!

  6. Rio
    September 10, 2008 at 7:42 pm

    Thank’s bro…
    ini sedikit tulisan yang pernah gue publish di blog gue, tentang banyaknya alibi yang digunakan oleh rekan2 kita sesam bikers diluar…
    http://digitalmbul.com/blogs/2008/06/02/pasang-strobo-or-flip-flop-di-motor/

  7. September 10, 2008 at 8:31 pm

    @ Bro Rio,
    Thank you atas inputnya.
    Blog anda menjadi referensi artikel ini. Saling melengkapi.
    Salam Brotherhood!

  8. Me
    September 11, 2008 at 7:39 am

    Bro, cuma mo tanya…
    Kenapa nggak ada keterangan tulisan di atas disadur darimana?
    Kenapa nggak ada keterangan gambar2 di atas diambil darimana..?
    Bukannya itu termasuk etika menulis..?
    Cuma ngingetin kog Bro…
    Btw, emang HTML udah memberi izin untuk publish prosedur turing ini…?

  9. September 11, 2008 at 11:32 am

    @ Bro Me,
    Thank you atas masukannya.
    Menyadari kekurangan penulis, maka tulisan ini telah diedit.
    Artikel ini tidak lagi menyebutkan sebuah nama klub atau komunitas.
    Sumber tulisan diatas adalah murni atas dasar pengalaman pribadi penulis mengikuti touring secara grup maupun individu.
    Berbagai artikel dan pengalaman touring sudah sering di posting melalui http://www.honda-tiger.or.id
    Jika ini memang baik, dapat memberikan contoh positif, silahkan copy & paste kepada yang memerlukan informasi touring.
    Salam brotherhood!

  10. September 12, 2008 at 4:26 am

    Gut onfo, Bro …πŸ™‚

  11. September 14, 2008 at 11:37 pm

    Keren ih media visualnya…
    bisa gerak2 jadi lebih mudah diingat

    regard,
    -darwin-

  12. September 15, 2008 at 8:45 am

    Weh… keren juga nih
    Om Stephen aku copy ya… post info di atas
    makasih

  13. September 15, 2008 at 9:01 am

    @ Tozzy,
    Thank you bro!

    @ Darwin,
    Setuju. Biar gampang, semua tau apa aja isyarat touring.

    @ Ispri,
    Silahkan copy & paste, diteruskan kpd teman yg lain.

  14. September 30, 2008 at 10:59 am

    om maaf nich ganggu , aku mo minta izin untuk mengcopy aturan tour punya om karena rencananya di tempat aku kerja mo ngadain tour tapi aku belum berani karena belum ada izin dari om bagaimana? sebelumnya aku ucapkan terima kasih apabila om mengijinkan aku mengcopy aturan tour itu…..

  15. September 30, 2008 at 11:08 am

    @Subhekti,
    Silahkan bro. Langsung aja copy link URL-nya dan bisa diforward ke teman2 kantor.

  16. October 14, 2008 at 5:02 am

    Om..
    Izin CoPas di blog club saya yh.. bagus banget buat club saya yang kebetulan belum lama terbentuk. Terima kasih

  17. October 14, 2008 at 5:05 am

    Oke bro. Silahkan..πŸ™‚

  18. Infanto
    October 30, 2008 at 6:12 am

    bro, sama, gue juga izin copy paste untuk prosedur turing bareng temen2 kantor.

  19. October 30, 2008 at 10:45 pm

    @ Infanto,
    Silahkan bro. Jangan lupa briefing dulu sebelum berangkat.
    Gak semua orang bisa paham walaupun sudah dikirim by e-mail.πŸ™‚

  20. Ray
    November 10, 2008 at 2:12 pm

    om…izin sedot utk di-share di teman2 club
    terima kasih sebelumnya

  21. November 10, 2008 at 2:30 pm

    @ bro Ray,
    silahkan saja.. salam brotherhood buat teman2 di club motornya..πŸ™‚

  22. November 19, 2008 at 3:42 pm

    Wah.. Informasi bagus..
    Jadi ngerti dah skarang..

    Makasi om..

    Regards,
    Arthur Malonda

  23. Edwin SOB
    December 21, 2008 at 11:21 am

    Izin Mas……buat Share ke temen-temen juga
    Puassss….dech

  24. December 22, 2008 at 3:28 pm

    owh Itu toh arti na,
    slama ini ngeliat gerakan klu ada touring mtr yang lewat ga tau arti na..
    skrg Paham laa..
    tq share na…

  25. Lutfi dwi sakti
    January 21, 2009 at 4:44 pm

    Bro Steven,

    Masih inget gw kagak ?
    Lutfi (HTML 737), kita touring ke bromo.
    Saya dapet tugas untuk ngisi acara bulan K3 pada februari ini dan saya dapet tema tentang safety riding campaign, dan gw melihat bro steven punya beberapa materinya nich, jika berkenan bisa kagak gw di share materinya yang mengenai safety riding, sebagai bahan dan kalo ada sich video juga boleh.

    hp : 0811833016

    Thanks,

    Lutfi

  26. January 24, 2009 at 9:23 am

    boleh juga ni infonya, bravo stephenlangitan.!

  27. January 27, 2009 at 4:44 pm

    @Erwin,
    silahkan copy paste diteruskan ke anggota komunitas/klub motor..
    disesuaikan aja menurut situasi/kondisi di lapangan..πŸ™‚

  28. January 28, 2009 at 5:58 pm

    Salam Bro Steven..

    saya mo izin copy infonya om, buat tambahan ilmu saftey riding teman-teman saya…

    salam brotherhood n makasih…

  29. February 23, 2009 at 10:13 pm

    thank atas infonya boz.
    bermanfaat banget…

  30. wira
    July 22, 2009 at 2:54 pm

    Enak banget ya kalau bisa ikutan, gue emang gak pernah ikutan touring, tapi info ini bisa dijadikan bekal seandainya gue dan temen-temen gue berniat mengadakan touring nantinya, doain ya

  31. adi
    October 14, 2009 at 4:47 pm

    wah…mantab artikelnya om….. pas banget nih… anak2x pada mo turing Lembang dan Pangandaran.. Numpang sedot ya om..moga bisa di terapkan di touring nanti,

    Artikel Rakom nya sangat membantu untuk club saya….
    mohon pencerahanya menjadi anggota RAPI…

    Salam Kenal, “A Motorcycle Club” [AMC]

  32. Faz'ris ( Azis )
    October 11, 2015 at 11:00 pm

    om Stephen Langitan mantap infonya om, ngebantu banget walau bukan dari club / komunitas manapun saya suka touring dengan kawan2, jadi sekarang bisa belajar kode2 saat touring, makasih om ijin save and share ya om….

    Salam dari Single Rider Utan Kayu Utara
    #_Mohammad Faz’ris_#

  1. September 11, 2008 at 12:07 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: