Home > KOPDAR > Having a good Dinner with Boss

Having a good Dinner with Boss


Jakarta, Juni 2007. Menjelang waktunya merger dan perpisahan dengan seluruh karyawan, akhirnya President Director (bos sayai) mengundang lima staff untuk dinner atau jamuan makan malam bersama dirumahnya.

Acara dinner ini telah di siapkan jauh-jauh hari oleh bos dan istri-nya, di rumahnya di kawasan elite Jakarta Selatan. Untuk membuat acara seperti ini saja, bos minta konfirmasi dan kepastian kehadiran, apakah dari lima yang diundang bisa hadir atau tidak.

Sekitar pukul 19.00 saya datang ke rumah bos bersama dengan rekan lain. Sebagai orang timur rasanya biasa membuka sepatu sebelum masuk rumah, namun boss melarang berbuka sepatu agar kami terus saja masuk kedalam rumah.

Tetapi tetap saja tidak betah setelah melihat karpet permadani merah yang digelar di Living Room (ruang keluarga) tepatnya di depan TV plasma yang lebar. Mau tidak mau buka sepatu tetap terjadi agar lebih santai dan bisa duduk di karpet merah.

Itulah awal kehadiran kami dirumah tersebut. Minuman pembuka dihidangkan dimana bos sebelumnya memperlihatkan minibar penuh dengan wine, beer dan minuman alkohol lainnya. Kebiasaan orang, tambah senang kalau kita memberikan pujian/sanjungan dengan koleksi yang dia miliki. Obrolan tambah lama dan dan minuman pun terus diteguk. Tambah lagi..đŸ™‚

Setiap botol wine yang jadi koleksinya punya sejarah, dan dia tau persis asal-usulnya. Semuanya dijelaskan secara lengkap. Ada beberapa botol minuman yang menjadi kesukaannya, tapi jarang diteguk karena sayang kalau sampai habis.

Setelah meneguk dua-tiga gelas wine, pembicaraan pun pindah tempat dan dilanjukan ke living room atau ruang duduk tengah. Percakapan menjadi lebih akrab dan terbuka, bahkan bisa dibilang lebih pribadi. Beliau menceritakan banyak hal sekaligus kehidupan masa kecilnya, dan karirnya bagaimana dia bisa datang ke Indonesia. Suasana pun tambah akrab dengan kehadiran istri beliau ikut nimbrung dan duduk bersama.

Ketika saatnya untuk dinner atau makan malam, maka kami diminta pindah tempat serta melangkah ke dinner table atau meja makan.

This is not a standing party, please have sit and enjoy the food” begitulah ujarnya dengan kalem sambil mempersilahkan kami duduk di kursi makan dengan meja segi empat. “Please do not talk about business, also no merger conversation and here you just have to relax with my food and drinks..” katanya lagi agar kami tidak kaku tapi santai saja.

Setelah duduk dengan sedikit basa-basi, sajian makan malam dari arah dapur turun ke meja satu persatu.

“Wah.. makanannya emang uenak banget, ada ayam kalkun asli import dari New Zealand” ujar saya dalam hati mengamati semua makanan yang ada dimeja termasuk oyester, brocoli dan lain-lain. belum lagi sajian kentang dalam dua jenis, yaitu french fries dan boiled potato dibungkus alumunium.

“Sikat aja yang ada dimeja” pikir saya sambil mengambil makanan satu persatu. Saya pun mulai menikmati sajian makan malam ini.

Istri bos pun turut mengambilkan beberapa jenis makanan yang harus dicoba. “Wah.. ini ayam kalkun apa ayam kampung.. koq dagingnya tebel amat ya gak nemuin tulang.. hehehe..” pokoknya nikmati ajalah bisik saya kepada teman yang ada disebelah kanan.

Tahap pertama makan malam berangsur selesai. Kami masih duduk dimeja dan istri bos mengeluarkan dessert, yaitu ice cream and  apple pie.

Melihat menu apple pie, saya jadi teringat makanan ini dulu sering dihidangkan oleh ibu saya ketika masih anak-anak. “Wah.. ini mirip film Ratatolie.. makanan kesukaan diwaktu anak-anak adalah yang paling nikmat jika bisa ditemukan lagi setelah sekian tahun menghilang” pikir saya waktu itu.

“Kalau ice-cream ini mah emang kesukaan saya banget-banget..” pikir saya sambil sedikit berdiri agar ice cream mudah dikeruk lebih dalam lagi.

Singkat cerita dinner pun usai dan kami balik lagi ke living room (ruangan keluarga). Semua rekan sudah pada full alias kenyang, tapi bos tak henti-hentinya menawarkan wine lagi (sedikit menggoda) untuk kami minum lagi.

Ya okelah, “one glass sir” ujar saya sambil menerima tuangan wine berwarna merah atau red wine. Awalnya satu gelas, kemudian 2, 3 masuk ke 4 mulai terasa ajep-ajep. Lama-lama pusing juga nih.. dan obrolan jalan terus sambil meneguk beberapa gelas beer.

Waktu jualah yang membuat kami harus pulang. Saya melihat bos dalam situasi apapun tetap berbaik hati terhadap semua karyawannya, khususnya menjelang merger yang mana keresahan staff sangat menonjol, dan dia masih bisa memberikan semangat; tetapi dia tidak akan pernah bisa menjamin nasib staff ke-depannya.

Cepat atau lambat dia juga sebagai President Director tetap harus pulang kampung ke negeri asalnya New Zealand. Btw, kita senasib dong.. sama-sama jadi korban merger.. hehehe.. nasib dah.:-)

The End.

Categories: KOPDAR
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: